20130430

A cup of coffee and a glass of berry tea


I don't know if you realize it or not but lately we start to loosen the foreign-ness in ourselves and start a new chapter of friendship. It was all started with you sharing those girl pics, those girl whom you dated and you explained to me each of them. I just smiled. You start to think I'm not a stranger. So cute of you, really... Never thought you could share this private things of yours. I'm listening!! ^^

And then the ball rolls and we start to opinionate our thought of each other. What kind of person I am in your eyes, and vice versa. It's fun. You made your points, I made mine. Nobody is protesting, thank God. Phew... 

I said to you that I notice you never address me the way you're supposed to address me. I guessed right, you just don't want to make an unnecessary intimacy with the person you're talking to, one of the way to prevent future heartache, is it? But it's cute. You talk like Koreans, a very formal one whom avoiding to address people, if not necessary. 

We always talked about a lot of things, but last night none of us seemed to want to be the passive ones, we both wanted to talk. How funny is that, we always tried to cut each others' talks. You've always been the quiet one, what was going on? Anyway, carry on... 

Your exes, your past relationships, you unbuttoned them one by one, no names, no dates surfaced, but the pain was so vivid, I could feel you clenched your teeth while spitting them out. It was all just the past. You have learned your lesson. You have to be with someone better. It's funny how we always bicker about how men and women are created differently. The expectations and selfishness that things should go according to our expectations. Two selfish people, we are, maybe that is why we get along too easily, don't you think?

I am glad we come to the place where we are now, where you can ask me when is my next vacation time, where I can make you drool over the concerts you want to attend, we are perfect trolls for each other, I guess. I am getting more and more homesick, you know?! I am glad we trust us to walk this path without crossing the line. You might bring back my trust over friendship containing a she and a he. I'm a long strayed friend-er who seeks someone who can see the same horizon without having to be stirred by the wind of change. Will we still be us? Let's give a try. 

Hugs,
Jingga


20130419

{tentang apa?}



Hobi ini sudah lama dan sampe sekarang masih belum bosen juga untuk melakukannya, berkali-kali, sampe obyeknya kadang sebel sendiri.

Aku suka manggil orang lain yang sedang ada di dekatku, sebelahku, pokoknya within reach of my hands, dengan namanya atau titelnya (Mama, Mbak, Mas,etc), jarang pake "woi", "hei", etc sih. Trus yang lebih mengasyikkan lagi ketika orang-orang itu menjawab. Entah dengan "apa", hmm, opo, yo, onok opo sih, dll. Seneng aja dengernya.

Ma?; Opo? (cepet jawabnya)
Pa?; Heuh? (masi sambil ngapain aja)
Ken?; Apwa? (sambil mengunyah)
Lut?; Yo! (sambil ngapain2)
Aris?; Apa? (adem kaya diguyur es, lol)
Yem?; Nyapo? (sambil liat yg manggil)
Tik?; Aphaa? (sambil a-nya diseret di belakang)
Ira?; Yes? (with full attention)
Huy?; What? (langsung siap dengerin)
Unnie?; Wae? (langsung merhatiin yg manggil)
Oppa?; Mm? (sambil nulis2)
Euis?; Ung? (noleh)
Vov?; Yup? (sambil noleh kiri kanan, distracted)
Pak Tri?; Apa, Jeruk? (kaya ditanyain tukang baju dipasar)
Five?; Mm! (cueknyaa.. haha)
Dev?; Opwo? (radar curiosity naik)
Mi?; Oppo? (benerin kacamata, balik halaman buku)
Nay?; Iyaa? (ketawa ceria)
Arka?; Ghh? (seakan nanya, apa panggil2)
Er?; Opoo? (mikir pasti ada yg salah)
Ti?; What? (short and quick, LOL)
Tan?; Yea what? (sambil manteng yg diajak bicara)
Mbak?; Apa, Ditto? (langsung nengok, siap diajakin ngobrol)
Rif?; Apa, Mbak? (sambil senyum)
Masih banyak sebenernya, kapan2 lagi ya?! Hahaha..

Banyak yang ngira aku iseng aja. Sebenernya nggak juga. Iya iseng, tapi ada nilai kedekatan yang sedang "diteskan". Yang cuek bukan berarti mereka cuek ya. Aku yakin mereka juga langsung pasang telinga dengerin apa yang mau aku omongkan. Dan yang paling priceless adalah ekspresi yang kelihatan waktu aku bilang,

"Nggak pa-pa, manggil thok."

Yang tadi noleh merhatiin pasti langsung pasang muka sebel sambil kembali ke aktivitas sebelumnya. Ada yg ekstrim sampe pencet hidungku juga sih (you know who you are T_T). *sobs*.

Bagiku rasanya hangat aja setiap denger gumaman ato jawaban pendek dari semua orang yang pernah kupanggil nama/titelnya. Itu yang paling bikin kangen setiap aku sedang berjauhan dari orang-orang tersebut, baik yg aku sebut diatas atau belum.

Baiklahhh.. cukup blabla-nya. TGIF ya, Teman2. Yg uda janjian sama aku, see you soon!! Can't hardly wait to see you, Guysss!! Mwah mwah~!

20130416

{tentang pacar}


Suatu sore di kosan Kwitang.

Adhit: Gie.. asiikk, sekarang punya pacar ya? Ciee cieee..
Anggi: Gak lah, Mbak. Kata siapa?
Adhit: Lah, kemaren katanya nonton sama cowok---nya?
Anggi: Nggak ada imbuhan -nya, kalo sama cowok iya. Temen doang tapi. Chocho tuh yg punya pacar.
Chocho: Nggaak. Aku ga punya pacar. Baru putuuus *sambil mendelik ga rela*
Anggi: Halah jangan bohong! Hari Minggu aku liat kamu dianterin pulang cowok.

*sekosan ribut suit suit*

Chocho: Yang Minggu itu TUKANG OJEK, Anggiiiii!! Kebangetan dehhh ==;;

*sekosan ngakak gak habis2*

20130411

How much will you pay me?



Daripada mikirin yang nggak perlu dipikir, mending menuliskan pengalaman ini. Sebenernya ini pengalaman buruk, tapi aku ingin mencatat ini agar nanti gak terjadi lagi. Tentang pekerjaan. Again, translation thingy.

Suatu hari ada temen yang minta tolong aku translate sesuatu untuk adek sepupunya. Bahan translate-nya gak tanggung-tanggung bok, jurnal kedokteran sejumlah 10 halaman yang satu halaman ada dua kolom tulisan itu lho. Karena aku lagi gak ada kerjaan dan dia temen baik aku, jadilah aku kerjain. Awalnya ditanyain pricing dan aku serahin balik ke dia. Entahlah… ga ada kepastian sejak awal. Aku pikir sih, masa ya dikit banget. Kalopun dikit gak papa-lah, kan harga temen gitu. The problem is waktu yang dikasi kalo ga salah cuman 3 hari. Three fuckin days only. Aku beneran meres keringet dan bisa ketebak sih hasilnya awful banget. Ini pertama kalinya aku baca jurnal kedokteran dan ga ada background sama sekali.

Akhirnya hari Sabtu jam 2 pagi aku submit itu kerjaan. Sang calon dokter datang bawa amplopan. Duh, sebenernya sih pengen aku tolak aja, soalnya hasil terjemahan aku jelek banget, malu-maluin. Biar dalam catetannya aku bantuin, bukan dipekerjakan. Jadi gak malu-malu banget kan? Tapi sang calon dokter memaksakan. Uda ditolak berkali-kali masi maksa akhirnya aku ngalah deh.

Pas dia pergi, aku timang-timang aja tuh amplop. Malu banget nrima duit dari kerjaan yang gak beres. Pas aku buka… ternyata isinya lima puluh ribu rupiah gitu. Aku tertegun sih pertamanya. Kayanya mending aku balikin duit itu dan menganggap terjemahan itu adalah bantuan instead of jual jasa karena duit itu jumlahnya dikit banget.

Etika membayar jasa terjemahan dihitung dari lembar hasil, bukan dari lembar naskah asal. Ya bayangin aja kalo naskah asalnya tulisannya kecil-kecil trus diketik jadi berlembar-lembar kertas A4. Kan ga adil banget tuh.

Spontan aja aku ngerasa nelangsa parah. Benarkah ini hasil yang harus kuterima dari 3 hari kurang tidur, ngebut nyelesein (meski hasilnya jelek banget) but still I did not get enough sleep those few days. UMR itu berapa ya?

Dari sini

UMR Malang = Rp. 1.340.300 : 30hari = Rp. 44.676,00

Sebenernya bayar aja upah UMR 3 hari, gimana? Sampe sekarang juga aku masi gak percaya aku dapat duit 50.000 rupiah untuk imbalan nerjemahin jurnal kedokteran dengan halaman hasil 40 halaman. Aku nyoba untuk ngertiin sang calon dokter, mungkinkah dia menganggap terjemahan itu jelek banget dan gak guna, tapi bukankah effort had been made, bukankah itu juga perlu dihargai?

Ini pelajaran buat aku banget sih. Nanti-nanti kalau minta tolong orang harus memikirkan bayaran yang pantas untuk orang itu, bukan cuman dari hasil yang kuterima tapi dari terawangan seberapa besar usaha orang itu untuk melakukan pekerjaan yang kita berikan.

Duit yang sedikit itu, mending aku balikin aja kali ya, biar sakit hatinya gak parah-parah banget. Tapi demi menghargai temanku ya udah aku simpen aja. Temanku sempat minta maaf juga karena adeknya udah malu-maluin banget. Bahkan sang calon dokter ini juga sampe balik ke rumahku untuk ngasi tambahan. Ya jelas kutolak lah!! Emang aku ini apaan? Hahaha.. Dari dulu aku selalu merasa soal duit itu wagu, tabu untuk dibicarakan apalagi dipersoalkan. Sebenernya kasus diatas itu uda cacat banget, gak bisa diperbaiki. Dia ngasi duit tambahan jelas kutolak, dia diem aja juga aku masi mikir dia kurang menghargai orang.

Ini buat bahan pelajaran aja ya. Please be considerate kalau nyuruh orang lain mengerjakan sesuatu buat kita. Kadang kita ngasi upah kebanyakan malah lebih baik daripada upah kurang. Apalagi kalo kita minta tolongnya ke orang kecil. Kalo dia bahagia sama upahnya trus kita didoain biar banyak rejeki, kan oke banget tuh… Ya nggak sih?

Emang semakin kaya seseorang, tidak menjamin bahwa orang tersebut akan semakin nyah nyoh sama uang. Ada juga orang yang makin kaya makin diitungin aja duitnya, makin perhitunganlah dia… Naudzubillah min dzalik. Semoga aku, keluarga dan teman-teman dekatku bisa terhindar dari hal-hal kaya gini. Amin. 

Aku nulis ini bukan karena aku hold grudge, ini reminder aja, terutama untukku bila suatu hari nanti rejeki berlebih. Semoga selamanya uang hanya alat, bukan kita yang diperalat uang. 

Yours,
/jingga

20130407

{tentang Mama}



Berbahagialah para emak yang dikaruniai indra keenam untuk mendeteksi ketidak-beresan yang terjadi di keluarganya, terutama pada anak-anaknya.

Barusan ditelpon sama Mama. Rasanya ngos-ngosan kaya dikejar waria.. hahaha *lebay*

Sebenernya sudah beberapa hari pengen telpon rumah tapi suasana hati sedang remuk redam, jadi ketimbang bikin Mama jengkel pada orang yang tidak beliau kenal, mending diem gak usa telpon sampai keadaan aman terkendali. Jadilah beberapa hari ini ngempet nggak telpon rumah sambil berharap Mama akan berpikir "No news means good news".

Ternyata tadi Mama telpon. Kerasa ya, Ma? :(
Haduuuw... kelimpungan menetralkan nada bicara dan membelokkan arah pembicaraan ke hal-hal yang lebih netral. Sumpah keringetan.

Aku: Mah...
Mama: Opo? Onok opo sih? Dari tadi mah meh mah meh, jebule mek takon Papa nangdi, kapan mulih... (Mama Papa lagi pulkam)
Aku: Anu... (keringet gede)... Annisa kapan ujian?
Mama: kan wis tak kandani pertengahan bulan iki.. takon terus.. Opo'o?
Aku: Nggak.. mek takon thok..
Mama: Aneh arek iki. Onok opo sih?
Aku: Nggak onok opo-opo, Ma. Mama, reeekk
Mama: Mosok? Gak biasane....
*tut tut tut*

Ternyata telpon keputus karena batere hp-nya ngedrop. Hahaha... *senang*

Aku selamaaaat. Hahaha.. #yess

Tapi intinya bukan disitu. Aku cuman menggaris-bawahi bahwa ternyata curhat sama ortu juga harus mulai di-edit. Maksudku bukan bohong atau mengurangi fakta ya, tapi lebih pada apa yang disampaikan ke ortu kita. Kadang kita marah sama teman atau siapapun deh, mungkin dalam permasalahan itu kita juga bersalah, tapi kita terlalu asik menceritakan kesalahan orang yang kita sebelin jadinya kalau ortu (particularly Emak) kita orangnya gampang terpengaruh, bisa-bisa kepikiran lho... Kasihan kan? Trus kadang masalah uda slese, kitanya lupa update. Jadilah emak kita masi kepikiran anaknya lagi jambak-jambakan sama musuhnya atau lagi gaplok-gaplokan... tanpa tahu bahwa sang anak dan musuhnya sudah akur minum kopi bareng di starbaks. Yang begini ini gak ada baiknya deh. Yang ada bikin mereka (para ortu) khawatir.

Jadi, untuk yang sudah pada gede kayanya curhat-editing itu perlu untuk menjaga kesehatan orang tua. Biar gak sakit-sakitan mikirin kita yang "bedhigasan" ini (Kita? LOL).

Mama... kali ini Mama selamat dari curhatan gak pentingku. Nanti aja kalo makin menggila aku lari pulang, nyuci kaki Mama, trus kuminum air bekas cuci kaki Mama. Ya, Ma, ya?

*yeee.. itu mah sama ajyaaa (getok kepala pake ulekan)*