20090202

PONIKU BERBAHAYA



Beberapa hari ini saya merasa risih luar biasa. Yeah, poni saya mulai kepanjangan. Saya tidak terbiasa dengan rambut yang menjuntai-juntai di wajah. Risih! Karena sudah tidak tahan, tanpa pikir panjang saya melangkahkan kaki ke salon dekat rumah. Salon ini terkenal karena bisa memotong rambut orang dengan cepat dan bagus. Maklum, sang hairdresser lulusann sekolah rambut di negeri Paman Hitler. Sambil memotong rambut, terkadang saya iseng mengajak ngobrol dalam bahasa Jerman. Bisa ditebak, saya yang duluan menyerah. Ich verstehe nicht, entschuldigung (Saya tidak mengerti, maaf)… Yah, siapa tahu dengan sok akrab begitu saya bisa mendapat diskon :P
Kembali ke urusan rambut saya, sesampainya di salon ternyata antrian tidak terlalu panjang. Beberapa menit saya habiskan untuk mencuci rambut, kemudian giliran saya segera tiba. Dengan cepat saya jelaskan bahwa saya hanya ingin merapikan rambut dan memendekkan poni yang sudah terlalu panjang. Kress! Kress! Yup! Panjang poninya pas… panjang rambutnya juga…
Setelah diblow beberapa saat, saya mulai merasa bahwa saya melupakan sesuatu. Dalam keadaan kering rambut saya selalu sedikit mengembang. Sejak SD banyak yang iri dengan poni saya karena selalu mengembang dengan alami seperti poni bintang telenovela, Thalia. Bila dalam keadaan basah panjangnya pas, berarti dalam keadaan kering rambut saya akan sedikit menggembung. Yeah! Poni saya terlalu pendek. Saya pulang dari salon dengan cemberut. Seharian saya habiskan di rumah saja.
Hari ini saya berangkat ke kantor dengan enggan. Ingin rasanya bolos saja, jika itu bisa memanjangkan poni saya beberapa millimeter saja. Saya tetap ke kantor. Pertama masuk beberapa siswa magang sudah menahan tawa. Haduhhhh… malunya!! Mereka bergerombol dan menunjuk-nunjuk saya. Saya pura-pura tidak tahu.
Tiba-tiba perhatian saya tertumbuk pada seorang anak laki-laki. Sepertinya dia siswa magang yang baru. Kasihan, duduk sendirian di pojokan.
Beberapa menit kemudian dia beranjak dari duduknya, dia datang menghampiri orang di sebelahnya untuk memperkenalkan diri. Dengan tenang dia berkeliling untuk bersalaman dan memperkenalkan diri. Ketika giliranku dia berkata seperti ini (tanpa diedit).
Anak SMU : Wasis
Saya : Adhit
Anak SMU : PSG disini juga??
Seketika meledaklah tawa siswa magang yang duduk disebelah saya, Sari dan Kiki. Mereka langsung meledek “sekolah di mana, Mbak?”. Duh, saya sampai salah tingkah. Si Wasis juga salah tingkah. Poni ini membunuhku.
Ah sudahlah. Satu pelajaran saya ambil, jangan memotong poni terlalu pendek bila tak mau dilirik daun muda.
Hahahahahahahahahahahahahahahaha
Hugs,
Jingga

No comments: