20090116

Untuk Srikandi


Jadi…
Disinilah aku berdiri. Mencoba berdiri lebih tepatnya. Mencoba sekuat tenaga menjadi kuat. Jujur, kakiku sudah tidak kuat menopang berat badanku sendiri. Aku yang limbung hampir jatuh. Aku yang hilang rasa untuk sirnakan kata maaf dari kepalaku.
Semua ini berawal denganmu. Kau! Rambut panjangmu yang legam. Kau dan lesung pipit di pipi kirimu. Kau yang selalu berceloteh riang semeriah pagi. Kau yang menggambar pelangi di siangku yang terkoyak mendung.
“Aku suka hujan. Suka sekali!“
Binar matamu indah kala kau mengatakannya. Hanya titik-titik air yang jatuh dari langit, tapi ia sanggup membuat matamu berbinar. Binar matamu ternyata lebih indah dari titik-titik air yang tumpah berbiaskan cahaya.
Kala kau datang. Kau tak pernah mengetuk pintu. Sembrono. Tidak sopan. Kau langgar batas kekuasaanku.
Kau bergerak terus. Maju dan maju seperti prajurit perang. Sejenak aku gagu. Apakah aku adalah papan sasaran bagimu? Apakah aku target bidikanmu kali ini? Dengan gugup kuambil senjatanya seadanya. Kuraih apapun yang ada di sekitarku. Oh tidak, jarakmu sudah terlampau dekat. Yak! Aku terbidik!!! Aku masuk daerah serangmu... Sekarang, apa yang harus kulakukan? Melarikan diri? Tidak mungkin. Menyerangmu lebih dulu. Tanganku telanjang tak bersenjata. Memohon ampun? Aku masih punya harga diri.
Kau berjalan. Makin dekat. Dekat. Dekat. Dekat. Dekat.
Jarak kita hanya berjarak satu kepalan tangan. Ya ampun, kenapa lonceng hatiku berdentang? Sebentar? Apa ini lagu cinta nan cengeng yang senantiasa kucibir dan kucerca? Kenapa lamat-lamat aku mendengarnya dilagukan entah oleh siapa? Oh... aku mulai gila.
”Aku ingin dekat denganmu, Ra”
Kau? Aku tidak percaya kau berucap kata itu. Apa maksudmu dekat? Apa yang kau maksud dekat? Cukup dekat untuk menggaduhkan duniaku yang hening? Cukup dekat untuk memberi benderang pada hariku yang gulita? Katakan sedekat apa!
Disini aku selalu sendiri. Aku berpikir sendiri. Mencoba mengerti dunia dan takdir yang mampir padaku. Tak sedikitpun aku ingin ditemani. Tak secercah asapun ingin kugubah hanya demi mendengar nasehat manis, mimpi berderai, angan membuncah. Duniaku hening, gelap, dan dingin. Itu yang ku tahu.
Lalu kau datang, merangsek maju, ingin mendekat. Kita berbeda warna. Tempatmu tidak disini dan tempatmu takkan pernah terjangkau kedua kakiku yang senantiasa tak beralas. Kau yang bersinar, aku yang berkerumun gelap.
”Kau gadis yang baik”

Dengan suara tercekat kusampaikan maksudku.
Demi Tuhan, hentikan semua perhatian ini.
Jangan pernah kau telepon aku lagi. Jangan mengirimkan sms-sms itu. Kumohon!! Hapus nomorku dari ingatanmu. Bentangkan kain hitam. Tanggalkan ikat kepala putih. Menyerahlah!
”Aku tidak bisa berhenti merokok. Sudah coba kulakukan tapi aku tetap tak bisa. Aku tidak bisa berhenti minum. Mereka semua temanku dan aku tak berarti tanpa mereka. Saat mereka mengangkat gelas, saat itulah aku harus mengangkat gelas milikku juga. Ohya, aku tidak sakit. Flu ini sudah biasa. Bagaimanapun kondisi tubuhku, jangan pernah memaksaku makan. Aku sudah makan tadi siang dan itu cukup untuk hari ini. Oh iya, jangan memaksaku tidur sebelum jam empat pagi karena dalam mimpi pun aku tak sanggup melakukannya. Terima kasih untuk semuanya.”
Sudah kukatakan apa yang harus kukatakan, tapi kau tak juga mundur. Letakkan senjatamu dan pulanglah. Disini tidak ada musuh, hanya ada batu yang keras kepala dan kokoh. Jangan buang tenagamu untuk seonggok batu karena apapun yang terjadi ia akan tetap seonggok batu. Kelam, keras dan dingin.
Sudah kuperingatkan. Namun kau dan keras hatimu masih juga bergeming. Warna merah jambu mulai menjalari. Inikah? Bukan, kurasa bukan. Meski aku tak pernah mengecapnya, aku tahu bukan ini rasanya.
Selama bulir waktu bergulir, selama denyut raga menggelayut, ini pertama kalinya. Kedatanganmu membawa harum tanah tersiram air hujan. Kau adalah hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Tak selarik jingga senja pun terlewatkan tanpa mayangmu membelai pundakku.
”Aku sayang kamu dan aku percaya jodoh”.
Anganku terburai cepat tanpa bisa kucegah. Aku mengutuk diriku yang tak sanggup menebar sangkal dan menuang dusta. Terlanjur. Seperti hujan yang merah muda memendam bara kasih dalam tiap rintiknya.
”Aku tidak yakin mencintaimu, Shin”
Ralatku mengalir tak tercekal. Seperti sia-sia menghentikan hujan yang terlanjur deras. Harus berhenti. Sekarang atau tidak sama sekali.
Matamu bertanya dalam bara lukanya. Aku terpasung dalam sunyiku. Pelan-pelan kupalingkan wajah. Aku tahu tangismu tergores peka dalam relungnya yang terdalam. Tapi kau adalah Srikandi yang perkasa dan jelita. Takkan kau biarkan butiran airmata menitik. Tak kau biarkan bunga luka menebarkan harumnya. Setidaknya tidak di depanku. Kau terlalu tangguh.
“Maafkan aku, Srikandiku. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri.”
Percayalah. Waktu yang akan menyembuhkan semuanya.

2 comments:

devilito said...

kado dari Sang Hyang Widi, tak pernah terbungkus dlm lipatan yang terangkai maniz, tapi tertabir di balik lilitan duri yang terpeluk oleh buaian pekat. i know that u'll be stronger than before.

pipi jingga said...

Auk ah gelap!