20090108

Langkah


Kulangkahkan kaki.
Gamang…
Enggan pergi

Sulit rasanya memulai sesuatu. Sesuatu yang tidak dikehendaki untuk bisa dimulai. Seperti langkah ini. Sungguh aku enggan memulainya.

Bukan tanpa alasan aku melangkah. Mengorek sisa-sisa keberanian. Keberanian menjalani apa yang dikatakan orang sebagai awal, namun bagiku tak lebih hanya sisa-sisa keberanian. Aku tidak berani memulainya. Aku tidak berani mengawalinya. Aku hanya bisa menoleh ke belakang dan sangat ingin kembali.

”Aku tidak yakin mencintaimu, Shin”

Kalimat itu berputar-putar di kepalaku. Seperti bunyi kaset kusut. Seperti radio rusak. Aku tidak bisa menghentikannya berdenging di telingaku. Aku yang lelah ini tidak mempercayai kenyataan bahwa aku masih harus terluka.

”Ra, aku tidak pernah menyuruhmu mencintaiku. Tidak pernah! Aku tidak pernah memintamu untuk membalas semua perhatianku. Terlintas pun tidak. Aku tidak pernah bertanya, tapi mengapa kau menjawab? Pertanyaan siapa yang kau jawab?”

”Aku tahu kau tidak pernah bertanya, Shin. Aku hanya tidak mau kamu berharap banyak. Aku hanya ingin meneruskan apa yang sudah dari dulu kumulai dan menyelesaikannya sesegera mungkin. Aku hanya ingin berkonsentrasi penuh pada hal itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri.”

Jujur pada diri sendiri atau egois? Aku tahu kau mengatakan semua itu untuk kepentinganmu sendiri. Alasan agar ku berhenti berharap adalah omong kosong. Seingatku aku tidak pernah membagi harapanku kepadamu tapi kau berulah seolah ini semua adalah hama yang harus diberantas. Bagaimana bisa ada hama bila hamparan padi saja kau tidak punya? Menggelikan.

Tahukah kamu? Aku hampir selalu melewati pintu itu tapi entah kenapa aku selalu ingin kembali lagi. Aku seakan gamang, merasa asing dengan dunia luar. Aku jadi seperti alien yang baru saja mendarat dari pesawat luar angkasa. Aku atau mereka yang aneh.

Bagiku hanya dua hal yang tidak aneh. Pertama, aku. Kedua, kamu. Kalau saja kamu sadar, kita sudah berbagi diri kita sejak hari pertama kita bertemu. Kau dengan sapaan khasmu yang super aneh itu. Aku dan tingkahku yang kikuk di hadapanmu. Sejak itu aku tidak pernah jauh darimu. Seperti layang-layang. Meski terbang tinggi diatas langit, tetap terhubungkan dengan seutas benang.

Aku tidak pernah memasangkan tali kekang. Kau tidak pernah menandai daerah kekuasaanmu. Semua berjalan seperti biasa. Kita yang selalu bersama adalah seperti matahari yang berbinar di siang hari dan gelap yang menjuntai malam hari. Kita hampir percaya bahwa pagi yang mendung bukanlah pagi, malam yang berbenderang purnama bukanlah malam. Kita hanya mengenal pagi beralun mentari, malam berdawai gelap. Itu saja.

Kita bersama. Kita berkubang dalam hukum yang kita tuliskan bersama. Hukum yang kita tatahkan pada batu. Hukum yang kita torehkan dengan tinta darah. Hukum bahwa Shin adalah Ra, Ra adalah Shin.

Berjuta kali aku mempercayakanmu semilyar rahasia. Semua galau, maki, benci, amarah, duka, semua kupercayakan padamu. Tak ada yang tertutupi. Kau bilang aku selalu berkicau seperti penyiar radio. Kau adalah tempat sampah terhebat. Menerima tanpa pilih-pilih dan banyak protes. Kau anugerah.

Kau beku seperti es. Seperti tak punya hati. Selalu berusaha terlihat tangguh meski tersakiti. Tak terhitung pengkhianatan yang kusaksikan, kau hanya mampu memaki di depanku. Kau terlalu mencintai teman-temanmu. Mereka adalah udara yang kau hirup. Mereka adalah tanah yang kau pijak. Mereka adalah air yang kau minum. Sadarkah kau, kau menghirup udara yang penuh polusi, kau memijak pasir hisap, kau meminum racun? Peringatanku berdesing seperti senapan tua, kekhawatiranku tampak seperti suara gasing yang tak penting. Kau tak pedulikan.

Tetap saja aku yang teristimewa. Aku selalu hadir. Aku selalu ada. Aku, sang penyimpan rahasia.

Semua melodi yang tercipta di tengah malam hening. Puisi yang tertulis di kala senyap berkumandang. Kau membuka pintumu, memperdengarkan melodi yang tak terdengar siapapun, membacakan puisi yang tak tersampaikan bahkan oleh angin. Aku masih menyimpannya. Semua tanpa terkecuali. Di rumahmu yang hening dan senyap kita belajar membuka pintu dan membebaskan jiwa.

Aku seperti seorang Putri dan kau adalah Ksatriaku. Aku memilikimu yang selalu menjagaku seperti angin yang memeluk ombak di lautan lepas. Kau mempunyai aku yang selalu menunggu seperti burung gereja berharap hujan.

Aku merasa terhormat. Aku merasa dihargai. Aku merasa berharga. Aku merasa dicintai meski tak terkatakan.

”Aku membutuhkanmu, Shin.”

Kau mengulanginya. Mengingatkanku akan pengamen kecil di bis penuh sesak yang menyanyikan lagu yang sama dari waktu ke waktu. Semuanya tersembur tanpa beban. Hanya seperti helaan napas yang langsung terurai lepas ke udara. Ternyata es bisa mencair. Kau dan kesedihanmu. Aku hening. Ucapan hanya sampai di udara. Nasehat hanya berputar di kepalaku. Aku berduka atas kemalanganmu, tapi tanganku terikat, kakiku terpasung.

Sekarang,
Nanti,
Esok,

Semuanya akan berubah.

Kurasa inilah saatnya aku benar-benar melangkah. Aku hanya perlu melangkah keluar dan menutup kembali pintunya. Aku yakin kamu takkan pernah sadar bahwa matahari menyingkir dari pagi, dan gelap tinggalkan malam.

Kau yang tak yakin mencintaiku. Aku yang tak pernah bilang cinta.

Kita adalah pasangan yang cocok.
Saling melengkapi, tapi tidak untuk bersama.

19:53
7 Januari 2008

*selingan untuk rasa capek karena terjemahan yang menumpuk! Semoga berkenan!!! Kalau ada komentar, jangan sungkan untuk menuliskannya di comment box. Atau kalau mau private, bole ke email saya di adhitorange_11@yahoo.com

5 comments:

baru sembuh said...

puitis sekali dit ... tertata rapi kata-kata ne .... good luck .... kenapa harus orange ... ?

widianti said...

hm, diksimu banyak yah. aku ngiri. pinjemi sedikit saja dong Dhit, hehehe....

pipi jingga said...

@ baru sembuh:
Maturnuwun, Kamas... Good luck to you , too!!
Orange? Karena aku suka warna orange.
Gitu deh! ^__^

@ widiantiwidianti:
mari kita share diksi kita, Wi...
Banyak juga boleh kok! Aku tunggu kepulanganmu dan rencana kita menonton Pesawat244 bareng sambil melekan di HMJ! Wooyoo!!

Devilito said...

All In All Is All We All Are, let people say what they wanna say, we just try to keep our way, we have our light. Your step never belongs to him.

pipi jingga said...

Sapa bilang?