20090130

Komentar Ini Membunuhku




Ada beberapa komentar tentang tulisan saya. Yeah, terimakasih semuanya… Dibaca saja saya sudah senang, apalagi diberi komentar. I feel honoured...

Harus diakui bahwa memang tidak semua komentar bernada positif. Banyak juga komentar verbal yang saya terima selain komentar-komentar tertulis yang ada di blog-blog saya, semua saya dengarkan dengan senyum. Ada yang bilang tidak suka karena terlalu mellow, ada yang membaca paragraf pertama saja sudah malas untuk melanjutkan ke paragraph berikutnya. Itu tidak masalah buat saya. Ketika saya mem-posting beberapa tulisan ke semua blog saya dan mencetak tulisan saya untuk kemudian saya pinjamkan ke beberapa teman untuk dibaca, saya sudah mempersiapkan hati. Saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa seperti apapun komentar teman-teman ataupun para kenalan saya, saya tidak boleh marah. Saya harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Sedangkan kalau komentarnya bernada positif saya tidak boleh sombong. Semua komentar-komentar itu saya tampung, dan saran-sarannya saya perhatikan, terutama saran-saran yang berkaitan dengan pragmatik bahasa.

Namun, suatu ketika komentar yang lumayan tajam datang dari salah seorang teman dekat. Entah saya yang sedang sensitif atau dia hanya ingin menggoda saya. Dengan santai dia mempertanyakan ketulusan saya dalam berkarya. Saya tanggapi setenang mungkin bawah saya menulis untuk kepuasan saya sendiri dan saya selalu menulis dengan hati. Semua puisi dan cerpen saya lahir dari suasana hati yang berwarna-warni. Setiap karya memiliki makna yang dalam bagi saya. Menulis selalu membuat saya lega karena berhasil mengeluarkan unek-unek dengan cara yang elegan dan indah (indah bila dibandingkan dengan melampiaskan kekesalan dengan membanting piring-piring di dapur Mama saya). Disini saya lulus ujian. Saya menghadapi kritikannya dengan kepala dingin. Yang mengejutkan, kemudian teman dekat ini mengeluarkan kata-kata yang cukup mengusik “Dengan menulis kamu lega, kan? Kamu lega karena tulisanmu dibaca orang”.

Saya tersentak kaget. Mungkin sebagian pernyataanya benar. Beberapa seniman memang memilih untuk mengapresiasi karyanya dan mengaguminya sendiri. Sayangnya saya bukan seperti mereka. Saya lebih memilih untuk menempelkan karya saya. Kalau ada yang lihat ya syukur, kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah mencoba berbagi. Pernyataan itu begitu sederhana tapi menyisakan tanda tanya di benak saya. Benarkah saya menulis hanya agar bisa dibaca orang lain? Benarkah saya menulis bukan untuk diri saya sendiri? Benarkah saya menulis untuk menciptakan image tentang saya sesuai gambaran yang ingin saya bangun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlampau sulit untuk saya jawab karena pemikiran saya yang terlalu sederhana. Satu hal yang bisa saya pastikan bahwa saya menulis dengan segenap kejujuran. Saya mencoba jujur bahwa saya menulis karena memang ingin bukan karena harus dan yang terpenting, saya menulis terutama untuk diri sendiri. Sebagai sarana mengukur kedewasaan… :D

Anda berpendapat ini apology? Be my guess :)

Hugs,
Jingga


PS:

Kenapa ya? Kok selalu saja omongan celometan selalu datang dari temen2ku sendiri...
Kadang mereka bisa begitu menyebalkan... Dan yang bukan siapa2 kadang bisa begitu sportif dan membesarkan hati penyair beginner ini... *Fiuuhhh capek hati jadinya!

4 comments:

devilito said...

hwa ha1000X....... unek2mu golekono dw jwbane. Yang pasti, aku senang bila kamu nggak brhenti menulis:)just remember that i'm the devil.

pipi jingga said...

apik caramu, Dev...

devilito said...

whateva u think lah...:)
Tuhan saja ingin dikenali (iyo gak?) knp awkmu ora:)

pipi jingga said...

Kamu tau knapa aku bikin blogspot? Tujuanku cuma satu, ntar klo tua aku masi punya arsip karya2ku dan aku bisa ngintip, waktu muda tuh aku kaya apa sihhh??
Se-naif apa dan progress apa yg sudah kubuat. Maybe less melancholic??
I hope so!
Klo orang mau baca, ya itu terserah...
Tapi aku pancen salah nek nesu karo awakmu. Now I'm open for any criticism (pencerahan dari An :P)