20090130

Sebuah Sindiran Manis

Jika engkau tidak mempunyai ‘ilm dan hanya prasangka,
milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Itulah jalannya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau tidak mampu berdoa dengan khusyu’,
maka persembahkanlah doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan!

Karena Tuhan dalam rahmat-Nya
tetap menerima mata uang palsumu.

Jika engkau mempunyai seratus keraguan kepada Tuhan,
maka kurangilah jadi sembilan puluh sembilan saja. Itulah jalannya!

Wahai pejalan,

Walau kau telah seratus kali ingkar janji, datanglah, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau mengangkasa, ataupun terpuruk dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah Jalan itu.”

—Jalaluddin Rumi—


ps:
Trims! Saya tersindir...
sumber dari intangiblemind.blogspot.com

Komentar Ini Membunuhku




Ada beberapa komentar tentang tulisan saya. Yeah, terimakasih semuanya… Dibaca saja saya sudah senang, apalagi diberi komentar. I feel honoured...

Harus diakui bahwa memang tidak semua komentar bernada positif. Banyak juga komentar verbal yang saya terima selain komentar-komentar tertulis yang ada di blog-blog saya, semua saya dengarkan dengan senyum. Ada yang bilang tidak suka karena terlalu mellow, ada yang membaca paragraf pertama saja sudah malas untuk melanjutkan ke paragraph berikutnya. Itu tidak masalah buat saya. Ketika saya mem-posting beberapa tulisan ke semua blog saya dan mencetak tulisan saya untuk kemudian saya pinjamkan ke beberapa teman untuk dibaca, saya sudah mempersiapkan hati. Saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa seperti apapun komentar teman-teman ataupun para kenalan saya, saya tidak boleh marah. Saya harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Sedangkan kalau komentarnya bernada positif saya tidak boleh sombong. Semua komentar-komentar itu saya tampung, dan saran-sarannya saya perhatikan, terutama saran-saran yang berkaitan dengan pragmatik bahasa.

Namun, suatu ketika komentar yang lumayan tajam datang dari salah seorang teman dekat. Entah saya yang sedang sensitif atau dia hanya ingin menggoda saya. Dengan santai dia mempertanyakan ketulusan saya dalam berkarya. Saya tanggapi setenang mungkin bawah saya menulis untuk kepuasan saya sendiri dan saya selalu menulis dengan hati. Semua puisi dan cerpen saya lahir dari suasana hati yang berwarna-warni. Setiap karya memiliki makna yang dalam bagi saya. Menulis selalu membuat saya lega karena berhasil mengeluarkan unek-unek dengan cara yang elegan dan indah (indah bila dibandingkan dengan melampiaskan kekesalan dengan membanting piring-piring di dapur Mama saya). Disini saya lulus ujian. Saya menghadapi kritikannya dengan kepala dingin. Yang mengejutkan, kemudian teman dekat ini mengeluarkan kata-kata yang cukup mengusik “Dengan menulis kamu lega, kan? Kamu lega karena tulisanmu dibaca orang”.

Saya tersentak kaget. Mungkin sebagian pernyataanya benar. Beberapa seniman memang memilih untuk mengapresiasi karyanya dan mengaguminya sendiri. Sayangnya saya bukan seperti mereka. Saya lebih memilih untuk menempelkan karya saya. Kalau ada yang lihat ya syukur, kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah mencoba berbagi. Pernyataan itu begitu sederhana tapi menyisakan tanda tanya di benak saya. Benarkah saya menulis hanya agar bisa dibaca orang lain? Benarkah saya menulis bukan untuk diri saya sendiri? Benarkah saya menulis untuk menciptakan image tentang saya sesuai gambaran yang ingin saya bangun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlampau sulit untuk saya jawab karena pemikiran saya yang terlalu sederhana. Satu hal yang bisa saya pastikan bahwa saya menulis dengan segenap kejujuran. Saya mencoba jujur bahwa saya menulis karena memang ingin bukan karena harus dan yang terpenting, saya menulis terutama untuk diri sendiri. Sebagai sarana mengukur kedewasaan… :D

Anda berpendapat ini apology? Be my guess :)

Hugs,
Jingga


PS:

Kenapa ya? Kok selalu saja omongan celometan selalu datang dari temen2ku sendiri...
Kadang mereka bisa begitu menyebalkan... Dan yang bukan siapa2 kadang bisa begitu sportif dan membesarkan hati penyair beginner ini... *Fiuuhhh capek hati jadinya!

20090122

He’s Back!!

Maaf.. Ya.. Aq minta maaf.. Sekali lagi, bukan mksd apa2, aq cuma mau minta maaf saja.. Jangan tanya alasannya.. Tp, yg jelas, maafkan aq..!

Sender:

Dre

+6285233xxxxxx

Sent:

21-Jan-2009

21:05:31

Tiba-tiba sms itu nyangkut di hpku malam2. I have to admit that I’ve been thinking about this guy recently. Gak tau kenapa? Tiba-tiba pikiran tentangnya melintas, tak bisa dicegah.

Malam itu dia tiba-tiba mengirimkan sms. Dia meminta maaf. Sepertinya sudah aku tulis disini betapa aku begitu kehilangan sosok sahabat, teman, mantan pacar seperti dia. Rasanya sakit karena melihatnya begitu tersakiti olehku.

Sekarang dia datang lagi dalam hidupku. Entah sebagai teman atau sahabat (itu yang kuharapkan). Entah kenapa kehadirannya begitu berarti. Kami pernah bersama, dan itu indah. Dan aku, sama sekali tidak menyimpan amarah seperti yang biasa terjadi pada mantan-mantanku yang lain. Aneh! Memang!

Hugs,

Jingga

Ps:

I heart his come back!! *hehehehe… YAY!!

20090116

Untuk Srikandi


Jadi…
Disinilah aku berdiri. Mencoba berdiri lebih tepatnya. Mencoba sekuat tenaga menjadi kuat. Jujur, kakiku sudah tidak kuat menopang berat badanku sendiri. Aku yang limbung hampir jatuh. Aku yang hilang rasa untuk sirnakan kata maaf dari kepalaku.
Semua ini berawal denganmu. Kau! Rambut panjangmu yang legam. Kau dan lesung pipit di pipi kirimu. Kau yang selalu berceloteh riang semeriah pagi. Kau yang menggambar pelangi di siangku yang terkoyak mendung.
“Aku suka hujan. Suka sekali!“
Binar matamu indah kala kau mengatakannya. Hanya titik-titik air yang jatuh dari langit, tapi ia sanggup membuat matamu berbinar. Binar matamu ternyata lebih indah dari titik-titik air yang tumpah berbiaskan cahaya.
Kala kau datang. Kau tak pernah mengetuk pintu. Sembrono. Tidak sopan. Kau langgar batas kekuasaanku.
Kau bergerak terus. Maju dan maju seperti prajurit perang. Sejenak aku gagu. Apakah aku adalah papan sasaran bagimu? Apakah aku target bidikanmu kali ini? Dengan gugup kuambil senjatanya seadanya. Kuraih apapun yang ada di sekitarku. Oh tidak, jarakmu sudah terlampau dekat. Yak! Aku terbidik!!! Aku masuk daerah serangmu... Sekarang, apa yang harus kulakukan? Melarikan diri? Tidak mungkin. Menyerangmu lebih dulu. Tanganku telanjang tak bersenjata. Memohon ampun? Aku masih punya harga diri.
Kau berjalan. Makin dekat. Dekat. Dekat. Dekat. Dekat.
Jarak kita hanya berjarak satu kepalan tangan. Ya ampun, kenapa lonceng hatiku berdentang? Sebentar? Apa ini lagu cinta nan cengeng yang senantiasa kucibir dan kucerca? Kenapa lamat-lamat aku mendengarnya dilagukan entah oleh siapa? Oh... aku mulai gila.
”Aku ingin dekat denganmu, Ra”
Kau? Aku tidak percaya kau berucap kata itu. Apa maksudmu dekat? Apa yang kau maksud dekat? Cukup dekat untuk menggaduhkan duniaku yang hening? Cukup dekat untuk memberi benderang pada hariku yang gulita? Katakan sedekat apa!
Disini aku selalu sendiri. Aku berpikir sendiri. Mencoba mengerti dunia dan takdir yang mampir padaku. Tak sedikitpun aku ingin ditemani. Tak secercah asapun ingin kugubah hanya demi mendengar nasehat manis, mimpi berderai, angan membuncah. Duniaku hening, gelap, dan dingin. Itu yang ku tahu.
Lalu kau datang, merangsek maju, ingin mendekat. Kita berbeda warna. Tempatmu tidak disini dan tempatmu takkan pernah terjangkau kedua kakiku yang senantiasa tak beralas. Kau yang bersinar, aku yang berkerumun gelap.
”Kau gadis yang baik”

Dengan suara tercekat kusampaikan maksudku.
Demi Tuhan, hentikan semua perhatian ini.
Jangan pernah kau telepon aku lagi. Jangan mengirimkan sms-sms itu. Kumohon!! Hapus nomorku dari ingatanmu. Bentangkan kain hitam. Tanggalkan ikat kepala putih. Menyerahlah!
”Aku tidak bisa berhenti merokok. Sudah coba kulakukan tapi aku tetap tak bisa. Aku tidak bisa berhenti minum. Mereka semua temanku dan aku tak berarti tanpa mereka. Saat mereka mengangkat gelas, saat itulah aku harus mengangkat gelas milikku juga. Ohya, aku tidak sakit. Flu ini sudah biasa. Bagaimanapun kondisi tubuhku, jangan pernah memaksaku makan. Aku sudah makan tadi siang dan itu cukup untuk hari ini. Oh iya, jangan memaksaku tidur sebelum jam empat pagi karena dalam mimpi pun aku tak sanggup melakukannya. Terima kasih untuk semuanya.”
Sudah kukatakan apa yang harus kukatakan, tapi kau tak juga mundur. Letakkan senjatamu dan pulanglah. Disini tidak ada musuh, hanya ada batu yang keras kepala dan kokoh. Jangan buang tenagamu untuk seonggok batu karena apapun yang terjadi ia akan tetap seonggok batu. Kelam, keras dan dingin.
Sudah kuperingatkan. Namun kau dan keras hatimu masih juga bergeming. Warna merah jambu mulai menjalari. Inikah? Bukan, kurasa bukan. Meski aku tak pernah mengecapnya, aku tahu bukan ini rasanya.
Selama bulir waktu bergulir, selama denyut raga menggelayut, ini pertama kalinya. Kedatanganmu membawa harum tanah tersiram air hujan. Kau adalah hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Tak selarik jingga senja pun terlewatkan tanpa mayangmu membelai pundakku.
”Aku sayang kamu dan aku percaya jodoh”.
Anganku terburai cepat tanpa bisa kucegah. Aku mengutuk diriku yang tak sanggup menebar sangkal dan menuang dusta. Terlanjur. Seperti hujan yang merah muda memendam bara kasih dalam tiap rintiknya.
”Aku tidak yakin mencintaimu, Shin”
Ralatku mengalir tak tercekal. Seperti sia-sia menghentikan hujan yang terlanjur deras. Harus berhenti. Sekarang atau tidak sama sekali.
Matamu bertanya dalam bara lukanya. Aku terpasung dalam sunyiku. Pelan-pelan kupalingkan wajah. Aku tahu tangismu tergores peka dalam relungnya yang terdalam. Tapi kau adalah Srikandi yang perkasa dan jelita. Takkan kau biarkan butiran airmata menitik. Tak kau biarkan bunga luka menebarkan harumnya. Setidaknya tidak di depanku. Kau terlalu tangguh.
“Maafkan aku, Srikandiku. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri.”
Percayalah. Waktu yang akan menyembuhkan semuanya.

20090109

Lilitan Hati

Lama kita terlilit
Beruntai-untai simpul persahabatan kita
Lama kita terjalin
Beruntai-untai tali perkawanan kita

Bersama-sama bererat tangan
Berpeluh bahagia
Bertangis duka
Tak pernah ingin lepaskan jalinan

Waktu beranjak tua
Umur bertahta dewasa
Lihat lilitan kita, simpul kuat mulai terurai masai

Sekarangkah, sahabat?

Sudahkah untaian kita lapuk?
Sekarangkah ikatan kita rapuh?

Kemana tempo kemarin berlalu?
Ataukah hanya aku yang tak berpindah tempat
Aku lena, sahabatku...
Pikirku, lilitan ini selalu ada

Sahabatku,
Ku lepaskan lilitan...
Larilah...
Bebaslah...

Kan ku untai doa hening
Selaksa ikhlas berdenting

Hanya untukmu, sahabat-sahabat tersayang...

14:15
9 Januari 2009

Buat Niken, Rahwana dan Eri yang sudah pergi...
Buat Devi yang ingin pergi...
Aku CINTA kalian!

20090108

Langkah


Kulangkahkan kaki.
Gamang…
Enggan pergi

Sulit rasanya memulai sesuatu. Sesuatu yang tidak dikehendaki untuk bisa dimulai. Seperti langkah ini. Sungguh aku enggan memulainya.

Bukan tanpa alasan aku melangkah. Mengorek sisa-sisa keberanian. Keberanian menjalani apa yang dikatakan orang sebagai awal, namun bagiku tak lebih hanya sisa-sisa keberanian. Aku tidak berani memulainya. Aku tidak berani mengawalinya. Aku hanya bisa menoleh ke belakang dan sangat ingin kembali.

”Aku tidak yakin mencintaimu, Shin”

Kalimat itu berputar-putar di kepalaku. Seperti bunyi kaset kusut. Seperti radio rusak. Aku tidak bisa menghentikannya berdenging di telingaku. Aku yang lelah ini tidak mempercayai kenyataan bahwa aku masih harus terluka.

”Ra, aku tidak pernah menyuruhmu mencintaiku. Tidak pernah! Aku tidak pernah memintamu untuk membalas semua perhatianku. Terlintas pun tidak. Aku tidak pernah bertanya, tapi mengapa kau menjawab? Pertanyaan siapa yang kau jawab?”

”Aku tahu kau tidak pernah bertanya, Shin. Aku hanya tidak mau kamu berharap banyak. Aku hanya ingin meneruskan apa yang sudah dari dulu kumulai dan menyelesaikannya sesegera mungkin. Aku hanya ingin berkonsentrasi penuh pada hal itu. Maafkan aku. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri.”

Jujur pada diri sendiri atau egois? Aku tahu kau mengatakan semua itu untuk kepentinganmu sendiri. Alasan agar ku berhenti berharap adalah omong kosong. Seingatku aku tidak pernah membagi harapanku kepadamu tapi kau berulah seolah ini semua adalah hama yang harus diberantas. Bagaimana bisa ada hama bila hamparan padi saja kau tidak punya? Menggelikan.

Tahukah kamu? Aku hampir selalu melewati pintu itu tapi entah kenapa aku selalu ingin kembali lagi. Aku seakan gamang, merasa asing dengan dunia luar. Aku jadi seperti alien yang baru saja mendarat dari pesawat luar angkasa. Aku atau mereka yang aneh.

Bagiku hanya dua hal yang tidak aneh. Pertama, aku. Kedua, kamu. Kalau saja kamu sadar, kita sudah berbagi diri kita sejak hari pertama kita bertemu. Kau dengan sapaan khasmu yang super aneh itu. Aku dan tingkahku yang kikuk di hadapanmu. Sejak itu aku tidak pernah jauh darimu. Seperti layang-layang. Meski terbang tinggi diatas langit, tetap terhubungkan dengan seutas benang.

Aku tidak pernah memasangkan tali kekang. Kau tidak pernah menandai daerah kekuasaanmu. Semua berjalan seperti biasa. Kita yang selalu bersama adalah seperti matahari yang berbinar di siang hari dan gelap yang menjuntai malam hari. Kita hampir percaya bahwa pagi yang mendung bukanlah pagi, malam yang berbenderang purnama bukanlah malam. Kita hanya mengenal pagi beralun mentari, malam berdawai gelap. Itu saja.

Kita bersama. Kita berkubang dalam hukum yang kita tuliskan bersama. Hukum yang kita tatahkan pada batu. Hukum yang kita torehkan dengan tinta darah. Hukum bahwa Shin adalah Ra, Ra adalah Shin.

Berjuta kali aku mempercayakanmu semilyar rahasia. Semua galau, maki, benci, amarah, duka, semua kupercayakan padamu. Tak ada yang tertutupi. Kau bilang aku selalu berkicau seperti penyiar radio. Kau adalah tempat sampah terhebat. Menerima tanpa pilih-pilih dan banyak protes. Kau anugerah.

Kau beku seperti es. Seperti tak punya hati. Selalu berusaha terlihat tangguh meski tersakiti. Tak terhitung pengkhianatan yang kusaksikan, kau hanya mampu memaki di depanku. Kau terlalu mencintai teman-temanmu. Mereka adalah udara yang kau hirup. Mereka adalah tanah yang kau pijak. Mereka adalah air yang kau minum. Sadarkah kau, kau menghirup udara yang penuh polusi, kau memijak pasir hisap, kau meminum racun? Peringatanku berdesing seperti senapan tua, kekhawatiranku tampak seperti suara gasing yang tak penting. Kau tak pedulikan.

Tetap saja aku yang teristimewa. Aku selalu hadir. Aku selalu ada. Aku, sang penyimpan rahasia.

Semua melodi yang tercipta di tengah malam hening. Puisi yang tertulis di kala senyap berkumandang. Kau membuka pintumu, memperdengarkan melodi yang tak terdengar siapapun, membacakan puisi yang tak tersampaikan bahkan oleh angin. Aku masih menyimpannya. Semua tanpa terkecuali. Di rumahmu yang hening dan senyap kita belajar membuka pintu dan membebaskan jiwa.

Aku seperti seorang Putri dan kau adalah Ksatriaku. Aku memilikimu yang selalu menjagaku seperti angin yang memeluk ombak di lautan lepas. Kau mempunyai aku yang selalu menunggu seperti burung gereja berharap hujan.

Aku merasa terhormat. Aku merasa dihargai. Aku merasa berharga. Aku merasa dicintai meski tak terkatakan.

”Aku membutuhkanmu, Shin.”

Kau mengulanginya. Mengingatkanku akan pengamen kecil di bis penuh sesak yang menyanyikan lagu yang sama dari waktu ke waktu. Semuanya tersembur tanpa beban. Hanya seperti helaan napas yang langsung terurai lepas ke udara. Ternyata es bisa mencair. Kau dan kesedihanmu. Aku hening. Ucapan hanya sampai di udara. Nasehat hanya berputar di kepalaku. Aku berduka atas kemalanganmu, tapi tanganku terikat, kakiku terpasung.

Sekarang,
Nanti,
Esok,

Semuanya akan berubah.

Kurasa inilah saatnya aku benar-benar melangkah. Aku hanya perlu melangkah keluar dan menutup kembali pintunya. Aku yakin kamu takkan pernah sadar bahwa matahari menyingkir dari pagi, dan gelap tinggalkan malam.

Kau yang tak yakin mencintaiku. Aku yang tak pernah bilang cinta.

Kita adalah pasangan yang cocok.
Saling melengkapi, tapi tidak untuk bersama.

19:53
7 Januari 2008

*selingan untuk rasa capek karena terjemahan yang menumpuk! Semoga berkenan!!! Kalau ada komentar, jangan sungkan untuk menuliskannya di comment box. Atau kalau mau private, bole ke email saya di adhitorange_11@yahoo.com

20090105

Eri juga...





Kemaren Eri (one of those lousy buddies of mine) ke rumah. Katanya dia mo berangkat ke Jakarta. Dia ketrima di Bapepam gitu...
Huhuhu...
Sedih juga mikirnya, karena aku dulu juga perna ngalamin eksodus ke Jakarta meski cuman beberapa hari. Aku gak bayangin gimana heboh persiapannya. Belum lagi si Elmi, sang istri tercinta lagi hamil 3 bulan.
Semoga kepindahannya ke Jakarta adalah yang terbaik.
Untuk mencapai kesuksesan memang tidak mudah dan kadang pilihan yang ada tidak terlalu bersahabat...

I wish you luck, Ri...

Hugs,
Jingga

Ini adalah kehilangan kedua dalam tahun ini. Cara yang bagus untuk mengawali tahun. Kehilangan 2 orang yang kusayangi...
Habis ini yang ngilang sapa lagi yak??

20090103

Biar kurunut kehilanganku...

Banyak yang hilang di tahun 2008...
Kalau boleh dikatakan semua itu sebelumnya benar-benar milikku... maka aku sudah tidak memilikinya lagi...

1. Niken
Ceritanya ada di postingan2 sebelumnya.
2. Pekerjaan
Lihat postingan sebelumnya juga
3. Ra
Ketika dia sudah memutuskannya...
4. Kemampuanku untuk bertahan
Ya sudah, aku mau jongkok aja di pojokan.
5. Rama
Kamu mantan yang baik, sayang kita tidak bisa berteman dengan normal...
6. Dreadlock Ra
May God forgive your soul...


AKU NGAMBEK!!!!

Baiklah...
Dunia, kalau mau berpaling dariku, silakan!! BE MY GUESS!!!
Aku sudah muak dengan semua ini!

Oh iya,
aku tidak akan terlalu meratapi poin 3 dan 4. Tau nggak kenapa? Sebelumnya kesakitan yang kualami jauh lebih membuat perih!!!
Seumpama aku jatuh ke jurang setinggi 3 kilometer, trus aku kjatuhan kerikil kecil2. Sakit sih... Tapi tidak akan sesakit ketika aku jatuh ke jurang...
Ya kan???

Aku juga mau bilang...
Aku ini ternyata bukan malaikat yang tidak punya sakit hati. Aku bisa sakit hati dan kecewa. Seperti sekarang!
Kenapa fakta kecil bahwa aku tidak pernah mengharapkan timbal balik dari orang2 yang kusayangi begitu susah dimengerti?? Apa tampangku sudah seperti pengemis???

Aku sayang kalian semua. Kalian semua yang mengerti bahwa aku sayang kalian. Tidak perlu bersusah payah ingin membalas apa yang kulakukan untuk kalian. Aku cuma ingin ikhlas. Aku ingin belajar ikhlas. Sebegitu merugikannyakah untuk menjadi "guinea pig"-ku?

Menyedihkan!

Karena kalian tidak mengerti!!!


Seandainya hatiku terbuat dari batu. Aku tidak perlu kecewa...

Tapi...

Aku masih saja kecewa...

Untuk kalian yang membuatku kecewa...
terimakasih karena sudah memberikan warna dalam hidupku!
Meski itu warna kekecewaan...
tapi selama kekecewaan itu tidak membunuhku, aku yakinkan bahwa kakiku akan terus berpijak di bumi ini...
Aku jatuh, tapi aku janji akan bangkit lagi!
Demi diriku sendiri!!!

Terimakasih telah memberikan aku kekecewaan yang teramat tulus!!! Terimakasih telah salah mengerti. Waktu yang akan meluruskannya karena aku bahkan tidak mau bersusah payah membela diri. Kalian sumber kekecewaan terbaikku!!!!!
Ra, terimakasih untuk kesempatan langka menjadi sahabatmu. Kamu boleh kembali padaku kapan saja untuk jadi sahabatku... Untuk sekarang, aku menyerahkannya pada sang Waktu... Waktu yang akan meluruskan pengertianmu...


Hugs,
Jingga

Resolusi yang Sok Serius

RESOLUSI 2009 *sok serius

Dari jaman jebot yang namanya Adhit gak perna bisa bikin daftar resolusi tahun baru. Menyebalkan sih, tapi aku mau bikin sekarang juga.

1. Pengen lebih mencintai Allah

Yeah! Aku merasa tahun 2008 benar2 menggerogoti aku body and soul. Indeed, aku melaksanakan semua solat dan puasa itu, tapi aku belum merasakan kedekatan yang intense dengan sang Pencipta. Aku jadi craving for more love dari makhluk-makhluk dan benda-benda di sekitarku. Aku pengen mendapatkan cinta-Nya. Cinta yang sejati itu. Aku merindukannya.

2. Pengen be a better decision maker

Yup! Selama ini aku bukanlah decision maker yang baik. Semua itu dibuktikan dengan tanggal 26 Januari 2008 yang begitu menyesakkan. I wish I were the one who dumped him. I was the one, but it wasn’t hard enough!! I wannabe really mean!!! Hahahaha!!! *kok jadi dendam kesumat ginih??? Selain itu, ya tentang kerjaan, eksekusi kesempatan dan lain-lain. Pengen lebih decisive lah, pokoke!

3. Pengen lebih sabar

Aku merasa emosiku makin naik turun kaya daun gelombang cinta. Aku pengen belajar lebih sabar dalam mengendalikan emosi. Caranya, YOGA!!!! Satu lagi, belajar mengikhlaskan segala sesuatu. ChayooO!!!

Oh iya, pengen menanti Arjuna hatiku dengan segenap kesabaran!! *ya elah akhirnya kesana juga.. :P

4. Pengen earn more

Aku masi belum nemu caranya biar bisa dapet pendapatan lain. Akan kupikirkan nanti. Chayohhhh!!!

5. Pengen produce something

Pengen nulis cerpen ato kumpulan puisi. Proyek ambisius? Mungkin aja! Therefore, aku pengen ikut workshop-nya Dewi Lestari. Aku gak mau menyianyiakan energi menulisku yang lagi berkobar ini. Wakakaka!!! *Thanks, Ra…

6. Pengen beli sepeda motor

Cukup gak yaaaaa duitnyaa?? Hahaha... *persiapan nodong Mam Pap

7. Pengen lebih dewasa

Tau sendiri gimana childishnya aku selama ini. Kanaifan tiada tara, belum lagi sikap childish yang tak kunjung reda. Pengen lebih dewasa. Pengen lebih mengerti dengan apa yang terjadi di sekitar. Pengen bisa menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan sikap yang pas dan elegan. Elegan! Itu yang penting. Belakangan aku mulai merasakan efek ke-childish-an yang emang gak bikin semua hal menjadi lebih baik. Berikan aku waktu, ya Allah. Ajari aku bersikap dewasa.

8. Pengen punya bermimpi dan mewujudkannya

Kalau kenal lama denganku pasti tahu bahwa sejatinya aku ini adalah orang yang sangat laid back dan mengalir saja. Begitulah, menjalani semuanya dengan lempeng dan sedikit protes sana sini plus misuh-misuh (lhoooo... katanya lempeng). Aku pengen mengubah itu. Pengen menulis mimpi-mimpiku dan mewujudkannya pelan-pelan.

9. Pengen YOGa lagi

Uda ketauan aku males. Uda beli yoga mat, tetep aja gak latian2 juga... Pegimane critanye tuh?? Mam uda marah2 karena merasa tertipu dengan rengekanku untuk membeli yoga mat. Sekarang entu karpet gak jelas ngejogrok aja di pojokan kantor. Siap diberangkatkan... *sayang yang punya gak berangkat2

10. Pengen mempererat tali silaturahmi dengan temen2 lama

Iftah, Ayu, Pakdhe, Sapi’i, Jibon, dll... Entah pada kemana mereka semua. Pengen rasanya kumpul2 lagi tapi aku gak ngerti gimana cara ngumpulinnya. Kangen banget. Kangen sama persahabatan kami yang sekarang jadi seperti buih di pantai. Terpencar-pencar dan terhempas-hempas kesana kemari.

11. Pengen berhemat

Pengen menghindari fashionesedaily.com dan menghentikan segala nafsu keduniawian (napsu beli lenongan lebih tepatnya). Kan katanya mo nabung buat beli rumah (jauhnyaaaaaa...). Lenongan... oh lenongan... Cintaku sungguh tak terbendung lagi...

12. Pengen lebih mencintai hidup

Caranya, dengan memutuskan tali silaturahmi dengan ESSE. Sebenernya sih gak tahan, tapi... makin lama makin nyesek aja. Sekarang malah naik kelas ke Avolution. Aduhhhh!!! Gawaaaaaaaaaaaaaaattt!!!! Yang ini aku gak janji. Pokoknya sekarang cuma boleh empat sekali hangout. My iron lung, I love youuuuuuuuu!!

13. Pengen bisa lebih mantap

Mantap dalam segala hal deh, pokoknya. Mantap dalam mengambil keputusan. Mantap dalam menjalankan tugas. Mantap dalam segalanya...

Namanya aja resolusi. Boleh donk nambah lagi kapan2 (alesan! Bilang aja gak ada inspirasi :P). Ya sutralah ini dulu... Semoga semua tercapai. Amiiiinn...

Hugs,
Jingga

20090101

5 minutes Reggae Party



Kemaren adalah hari yang lumayan bersejarah buatku. Kemaren lebih tepatnya tanggal 31 Desember 2008, para IM digiring ke aula VEDC Malang untuk menghadiri acara perpisahan. Tidak ada airmata, kecuali dari Mba Ayu yang emang mellow puolll…
Pulangnya, aku memutuskan untuk nunut Babe sampe matos. Aku mau ke UM dulu karena disana lagi ada reggae party. Beneran, nyampe sana panggung sastra uda riuh sama berbagai macam alat musik. Excited sebenernya, tapi aku menghabiskan malam ini sendirian aja. Tidur di rumah. Gitchu!
Hang out sebentar sama temen-temen. Aku pulang dehhh...
Oh iya, di WS sempet kenalan sama vokalisnya Horny Monkey yang namanya ARGO!!! Booookkkk... kemana entu dreadlock sepanjang pantat?? Kata Ra, dreadlock-nya dipotong soalnya si Argo mo final test ato apaan gitu deh... Ra juga memotong rambutnya!! (Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkk!! Dreadlock lucu itu telah pergi meninggalkan kita semua dan pergi ke surga bersama malaikat-malaikat kecil di sekelilingnya *lebay). Yang nyisa cuman dreadlock pendek. Dia malah bilang dreadlock-nya kaya rambut Agnes Monica. Wahahahahahaha.... *ROFL
Di WS ketemu Susi juga. Dia sedih dengan perpisahan IM. Takut gak ada yang ngurusin tuh anak... :P Tapi yawda lahh.. Di bawa hahahihi aja...
Pas mo pulang sempet disuruh tinggal sama anak2 Pesawat 244. Apalah daya, aku selalu gak tega kalo ada yg gak ngebolehin pulang gitu... Tapi, kostumku bener2 kostum baru pulang ngantor... Hoekkk banget dahhh!!
Pokoke harus pulang! Aku dianter Ra sampe tempat LG. Aku naek LG disambung MM sekitar jam 9an. Sampe rumah jam 10an. Langsung solat, bobok dehhhh... Masi sempet beberapa kali smsan sama Ra, tapi abis gitu mataku berat... Bobow deeeyhhh!!
Maap postingan kali ini kaga ada foto. Benernya pengen motretin panggung sastra yang jadi serba ijo-kuning-merah... tapi aku males ngeluarin kamera yang keselip diantara laptop, kabel dan berbagai macam plenik plenik dalam backpack-ku...
Yawda deyhhh..
Selamat Taun Baru semuanyaaahhh...
Hugs,
JINGGA