20081230

Rahwana by Abdul Mukhid



RAHWANA

Karya: Abdul Mukhid

REPORTOAR PEMBUKA

(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)

RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.

(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA: Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA: Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA: Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA: Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA: Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA: (Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat

SHINTA: Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.

RAHWANA: Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA: (Mulai mencucurkan airmata) Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA: (emosional) Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA terduduk dan menangis sejadi-jadinya.

ADEGAN 2

(Suasana sekitar berubah. Seperti ada guncangan dahsyat sebentar, lalu tenang kembali. SHINTA mematung. Sementara RAHWANA tampak kebingungan. Lalu terdengar suara dari SHINTA tapi dengan warna suara yang berbeda.)

SHINTA: Mendekatlah kemari, Rahwana. (RAHWANA tampak kebingungan mencari sumber suara. Lalu mengarahkan pandangan ke arah SHINTA. RAHWANA masih ragu) Iya, kemari!

Rahwana mendekat.

SHINTA: Tataplah wajahku baik-baik. (RAHWANA menatap wajah SHINTA dalam-dalam) Kau tahu siapa aku kan, Rahwana?

RAHWANA: (menjatuhkan tubuhnya ke lantai untuk menyembah) Aduh, ampuni hamba Guru Sejati..Mata hati hamba ternyata masih buta.

SHINTA: Bangkitlah, dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini.

RAHWANA bangkit dan mendengarkan dengan seksama.

SHINTA: Rahwana, semua yang dikatakan Shinta tadi adalah benar adanya. Ini memang takdir yang harus kalian jalani. Ini baru batu awal ujian yang harus kalian tempuhi untuk menjadi manusia sejati, sejati-jatinya manusia. Manusia yang bukan sekedar perwujudan darah dan daging, tapi sebagai ciptaan Sang Mahatunggal yang kelak juga harus kembali kepada Sang Hyang Tunggal.

RAHWANA: Hamba mengerti, Guru.

SHINTA: Nah, Rahwana. Kenapa kalian harus diuji? Barangkali karena perasaan duniawi yang mulai mengikat kalian. Cinta yang merebak dalam hati kalian telah menjelma menjadi sesuatu yang melebihi kecintaan kepada Hyang Tunggal. Dia ingin memperingatkan kalian untuk tidak menganggap segala yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang kekal. Dia tidak ingin kalian lupa pada tujuan sejati kalian. Ingatlah, rasa ingin memiliki dunia ini hanya akan mengantarkan kalian pada kesengsaraan. Kau boleh mencari dan memiliki apa yang ada di dunia ini, tapi jangan sekali-kali kau mengikatkan hatimu padanya.

RAHWANA: Hamba mengerti, Guru. Hamba telah melakukan kelailaian.

SHINTA: Bagus, kalau kau mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Rahwana, peperangan tidak akan terelakkan lagi. Sebagai manusia, berusahalah untuk mencegah perang ini, meski pada akhirnya bala tentara Rama akan menyerang negeri Alengka apapun yang jadi penyebabnya. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini memang peringatan bagi bangsamu yang lupa akan kemakmuran yang sudah dilimpahkan Sang Mahamurah. Banyak diantara rakyat dan pejabatmu yang melakukan berbagai tindak adharma. Mereka saling merampas dan mencuri, menghardik dan mencaci, memakan benda-benda yang bukan hak mereka atau yang dilarang oleh Sang Pencipta. Ini memang harus diterima bangsamu. Ini akan menjadi pertanda bagi siapa saja yang melupakan kasihNya, mengabaikan nikmatNya dan menantang kuasaNya.Nah, bersamadilah untuk mensucikan dirimu sambil menunggu Rama mengantarmu ke haribaan Sang Sejati. Selain itu Anakku, fitnah akan tersebar tentangmu setelah ini. Bersabarlah. Orang-orang akan memfitnahmu sebagai raja yang lalim dan manusia tak beradab. Mereka akan menjulukimu sebagai Dasamuka yang memiliki sepuluh macam keinginan. Sekali lagi, bersabarlah. Itu memang sudah menjadi konsekuensimu karena menginginkan Shinta. Jika kau berhasil mengalahkan keinginanmu terhadap Shinta dan melawan segala hasratmu untuk menyalahkan takdir, engkau akan mencapai derajat yang amat tinggi di Mata Hyang Widi, Anakku.

RAHWANA: Hamba mengerti, terima kasih Guru. Hamba akan laksanakan segala petunjuk Guru.

(Terjadi keguncangan lagi. SHINTA seperti terbangun dari tidur sementara RAHWANA tampak tenang.)

ADEGAN 3

SHINTA: (Setelah kembali kesadarannya sebagai Shinta) Kanda Rahwana? Kanda tidak apa-apa.

RAHWANA: Tidak, Dinda.

Keduanya bangkit.

RAHWANA: Sebentar, Dinda. Ada yang mengintip kita. (Tidak jelas ke arah mana) Keluarlah, Hanuman. Aku tahu kau mengintip kami sedari tadi.

Tiba-tiba muncul HANUMAN

HANUMAN: (Bersimpuh untuk menyembah) Sembah sujud hamba, Paduka Raja!

RAHWANA: (Tertawa kecil) Ayolah, tidak usah begitu. Bukankah kita sudah sama-sama tahu. Tidak usah memanggilku dengan sebutan "Paduka Raja". Yang ada di depanmu ini Rahwana, seorang manusia yang sedang bergulat mencari kesejatian. Jangan pandang mahkota yang kukenakan, duhai Kera Putih.

HANUMAN: Baiklah, Rahwana.

RAHWANA: Kau tahu semuanya kan, Hanuman?

HANUMAN: (Sedikit terkejut) Ya. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku mengintip, padahal….

RAHWANA: Ha…ha…ha. Hanuman, aku tahu kau memiliki kesaktian yang luar biasa. Mata biasa tidak akan bisa menangkap kehadiranmu. Ketahuilah Hanuman, sebenarnya aku tidak hanya mengetahui kehadiranmu, tapi juga apa yang ada di pikiranmu.

HANUMAN: Maafkan aku Rahwana, jika aku meremehkan kemampuanmu. Aku tahu kau juga seorang raja yang sakti pilih tanding. Tapi mengapa kau biarkan saja aku, kalau engkau memang tahu?

RAHWANA: Aku ingin engkau menjadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin engkau menjadi saksi cinta sejatiku kepada Shinta, meski orang akan mengira bahwa kecintaanku tak lebih karena nafsu belaka. Aku ingin kau tahu, bahwa akhirnya aku mau melepaskan segala ikatan dengan dunia ini. (RAHWANA menghela napas dalam-dalam) Dengar Hanuman, seandainya aku mau menggunakan seluruh kekuatanku, aku mampu menghancurkan Rama beserta seluruh bala tentaranya. Tapi tidak Hanuman, aku tak mau menjadi budak nafsu pribadiku.

HANUMAN: Aku mengerti, Rahwana.

RAHWANA: Hanuman!

HANUMAN: Iya, Rahwana.

RAHWANA: Aku minta jangan kau sebarkan apa yang sudah kita bicarakan ini. Mereka tidak akan mengerti. Dan lagi, itu akan merusak tatanan takdir yang harusnya aku terima dengan tulus.

HANUMAN: Aku mengerti.

RAHWANA: Berjanjilah, Hanuman.

HANUMAN: Aku berjanji.

RAHWANA: Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kumbakarna sudah menunggu kematiannya lewat tanganmu. Dia akan sangat bahagia bisa mati di tanganmu.

HANUMAN Terlihat mulai menitikkan air mata demikian pula dengan SHINTA.

RAHWANA: Jangan, Hanuman. Jangan bersedih atas takdir yang akan aku jalani. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan awal kebahagiaanku bersama Sang Sejati. Pergilah cepat. Jangan sampai ada orang yang melihat dan mendengar percakapan kita ini.

HANUMAN: Baiklah, aku pergi. (Kepada SHINTA) Hamba pergi, Tuan Puteri. Percayalah, saya akan selalu berada di belakang Tuan Puteri.

SHINTA: (Dengan sesenggukan) Pergilah, Kera Kesatria. Jangan khawatirkan aku.

HANUMAN keluar.

ADEGAN 4

RAHWANA: (Kepada SHINTA) Kenapa menangis, Shinta? Bukankah kau yang mengingatkanku untuk bersabar?

SHINTA: Aku tidak bisa menahan kerapuhanku sebagai manusia, Kakanda.

RAHWANA: Kalau begitu, doakan saja aku supaya termasuk orang-orang yang sabar.

SHINTA: Tentu saja, Kanda Rahwana.

RAHWANA: Aku juga akan selalu mendoakanmu, karena yang akan kau alami sesudah ini bukannya lebih ringan dariku. Kesucianmu akan diragukan oleh Rama.

SHINTA: Aku sudah siap. Bahkan dibakar di atas api suci pun aku tak akan mengelak.

RAHWANA: Sekarang tinggalkan aku, Shinta. Beristirahatlah kau di kamar istana yang sudah aku siapkan.Aku ingin samadi. Tapi sebelum itu panggilkan Wibisana sebelum dia pergi menemui Rama. Ada pesan yang ingin kusampaikan.

SHINTA keluar.

ADEGAN 5

RAHWANA: Datanglah, duhai Sang Maut. Telah lama kunanti diriMu. Biarlah dunia ini menjadi milik mereka yang terpedaya. Biarlah kesejatian cintaku lebur ke haribaan Sang Maha Kasih.

Hening sesaat. RAHWANA mengambil sikap duduk bersila. WIBISANA masuk.

WIBISANA: Kakang memanggilku.

RAHWANA: Oh, Wibisana. Mendekatlah kemari.

WIBISANA mendekat.

WIBISANA: Apakah ini soal keberpihakanku kepada Rama, Kanda Prabu?

RAHWANA: (Tersenyum) Bukan. Aku sangat menghargai pilihanmu berperang di pihak Rama. Cuma, sebelum kamu berangkat aku ingin menitipkan pesan.

WIBISANA: Pesan? Kepada Rama?

RAHWANA: Ya. Katakan kepada Rama, aku akan memberikan Shinta dengan suka rela jika dia memintanya kepadaku dengan baik-baik.

WIBISANA: Aku tidak yakin Rama akan mempercayai isi pesan Kanda.

RAHWANA: Apapun jawabannya. Sampaikan saja, pesanku.

WIBISANA: Baik, Kanda. (PAUSE) Dengar Kanda, bagaimanapun aku tetap menyayangi Kanda Rahwana. Tapi banyak pandangan kita yang berbeda. Di samping itu, soalnya adalah bahwa Rama adalah guruku.

RAHWANA: Aku mengerti, Adhi. Sudahlah, jangan sentimentil begitu. Pergilah kau layaknya seorang kesatria. Jangan kecewakan Kakandamu sebagai kesatria.

WIBISANA: Baiklah Kanda Prabu, saya pergi.

WIBISANA pergi. RAHWANA memulai samadinya.

Lampu padam/Layar Turun

BABAK DUA

ADEGAN 1

Siang hari keesokan harinya. Rahwana masih tenggelam dalam samadinya. Sementara pertempuran sengit tengah berlangsung. Penggambaran pertempuran bisa lewat siluet di layar. Terserah kreatifitas sutradara. Sesudah penggambaran pertempuran, ada dua orang mentri kepercayaan menghadap Rahwana yang sedang samadi, dan membangunkan samadinya.

MENTRI 1: Maafkan hamba, jika mengganggu Samadi, Paduka.

RAHWANA: Silahkan, Paman.

MENTRI 2: Ada berita buruk yang hendak kami sampaikan, Gusti.

RAHWANA: (Menarik napas) Hm…ini tentang Kumbakarna, kan?

MENTRI 1: Betul, Gusti.

RAHWANA: Aku sudah tahu.

Kedua mentri berpandangan dengan perasaan heran.

RAHWANA: Aku tahu, Kumbakarna dipotong kepalanya oleh Hanuman. Lalu kepala itu ditanam di atas bukit. (Tersenyum) Bukan Paman. Ini bukan berita buruk. Ini Sudah lama dinantikan Kumbakarna. Bahkan sebelum berangkat ke medan laga, dia meminta kalungan bunga telasih yang menjadi simbol bahwa dia ingin melepaskan ikatan dari keduniawian.

MENTRI 1 & 2: Hamba mengerti, Gusti.

RAHWANA: Ketahuilah Paman-Pamanku yang setia. Kekalahan Alengka ini memang sudah suatu keniscayaan. Darah yang mengalir di sungai-sungai adalah batu peringatan bagi siapa saja yang terlalu mengagungkan kemakmuran dan kejayaan duniawi. Maka dari itu Paman, jangan sekali-kali mengikatkan diri pada dunia. Jangan sekali-kali terbujuk oleh kesementaraan. Kalian boleh memiliki perhiasaan dan kekayaan duniawi, tapi hendaklah ingat bahwa semua itu hanyalah mimpi. Ingat itu baik-baik.

MENTRI 1 & 2: Hamba, Gusti.

RAHWANA: Nah, sekarang pergilah kalian. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Pergi dan selamatkan diri dan keluarga kalian.

MENTRI 1 & 2: Tapi Gusti…

RAHWANA: Sudahlah. Pergilah kalian. Aku tak butuh perlindungan. Saatku memang sudah tiba. Aku sudah melihat para bidadari menyiapkan permadani di Nirwanaloka. Pergilah, sebelum kalian dicincang oleh bala tentara Rama Wijaya.

MENTRI 1 & 2: Kami akan selalu mematuhi perintah, Paduka.

Tiba-tiba masuk seorang PRAJURITt dengan tergopoh-gopoh.

PRAJURIT: Sembah sujud hamba, Paduka.

RAHWANA: Ada apa, Prajurit?

PRAJURIT: Pasukan Rama Wijaya mulai menggempur pintu gerbang, Paduka. Sebentar lagi mereka akan memasuki halaman kerajaan.

RAHWANA: Berjuanglah terus kalian dengan gagah berani. Jangan sisakan satu prajurit pun di Istana. Aku tidak membutuhkan perlindungan kalian. Tunjukkan pada Rama dan dunia bahwa bangsa Alengka bukan bangsa yang kerdil dan mau saja tunduk di bawah kaki Rama Wijaya. Pergi dan sampaikan pesanku ini kepada seluruh prajurit.

PRAJURIT: Baik Gusti, hamba mohon diri.

PRAJURIT keluar.

RAHWANA: Nah, mentri-mentri yang setia. Pergilah kalian. Kejayaan Alengka sudah berakhir. Pergi dan ingat-ingat selalu apa yang telah aku pesankan kepada kalian.

MENTRI 1: Baik, Gusti. Kami mohon diri.

KEDUA MENTRI keluar.

ADEGAN 2

RAHWANA: Oh keindahan yang menipu, sebentar lagi aku akan segera meninggalkanmu. Meninggalkanmu untuk bertemu dengan keindahan sejati. Oh, istana yang dibangun oleh keringat berjuta manusia. Leburlah kau menjadi batu-batu. Jadilah kalian kenangan bahwa pernah ada sebuah bangsa yang berjaya, tapi harus menemui kehancurannya dikarenakan kesombongan dan ketamakan manusia. Oh Rama, datanglah Mautku. Aku siap menyambutmu.

Masuk SHINTA

SHINTA: Kanda Rahwana.

RAHWANA: Dinda Shinta, kenapa kau kemari? Bukankah sebaiknya kau beristirahat?

SHINTA: Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak kuasa membayangkan kengerian ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya kita harus berpisah. Bagaimanapun juga aku tetap manusia biasa, Kakang.

RAHWANA: Oh Dewi Kesucian! Aku juga bisa merasakan apa yang menjalar di aliran darahmu. Di dalam darahku juga mengalir kepedihan yang sama. Tapi dengarlah wahai lambang kesucian yang akan diabadikan manusia sepanjang masa! Pada hakikatnya kita tidak pernah berpisah. Bukankah kita berasal dari nafas yang sama? Bukanlah badan ini hanya perwujudan semu belaka? Bukankah kita ini hanyalah anak-anak sungai yang pada akhirnya mengalir di samudra yang sama? Jika semua orang mampu memahami ini, niscaya tidak akan ada kedukaan dalam batinnya. Tidak akan ada tetes airmata yang sanggup melunturkan keteguhannya.

SHINTA: Tapi…kenapa, kenapa kita harus menanggung semua fitnah ini? Mengapa harus kita harus menjadi sasaran panah-panah kecurigaan hati manusia?

RAHWANA: Dengarlah wahai Shinta Suci. Tidak ada duka atau bahagia. Semua itu hanyalah batu-batu ujian untuk menguji kesejatian cinta kita kepada Sang Mahasuci.

SHINTA: Syukurlah, kalau Kanda sudah memahami semuanya!

RAHWANA: Sang Penguasa Jagat telah menyampaikan pemahaman itu lewat dirimu, Adinda. Maka, hapuslah airmatamu dan hadapilah Sang Nasib bagaikan menyambut kicauan burung di pagi hari.

ADEGAN 3

HANUMAN datang dengan tergesa. RAHWANA dan SHINTA terkejut.

HANUMAN: Rahwana.

RAHWANA: Hanuman? Bukankah kau seharusnya ada di medan laga?

HANUMAN: Aku ingin memberi penghormatan terakhir padamu. Bala tentara Ayodya beserta pasukan kera sudah semakin dekat dengan istana.

RAHWANA: Terima kasih, Hanuman. Aku sudah siap menyambut mautku. (PAUSE) Dengar Hanuman, aku ingin mengungkapkan sebuah rahasia. Hanya kita bertiga yang boleh mengetahuinya.

HANUMAN: Apa itu Rahwana?

RAHWANA: Kau tahu, aku tidak mungkin dibunuh dengan senjata apapun. Maka dari itu, katakan pada bala tentara Ayodya msupun pasukan wanara dari Gua Kiskenda, aku hanya mau bertarung dengan Rama. Hanya dengan Rama. Suruh saja mundur Anila, Anggada bahkan Leksmana sekalipun.

Hening sesaat

RAHWANA: Aku akan melayani Rama untuk bertarung. Bila aku sudah melihat Sang Yamadipati, Sang Maut Penjemputku, maka aku akan melakukan tyaga. Aku akan matiraga. Akan kulepaskan sendiri nyawaku dan menyerahkannya pada Si Pencabut Nyawa. Maka sampaikanlah kepada Rama, agar dia melepaskan senjata pamungkas Bhramastra ketika aku mengambil sikap samadi yang tak lain sebenarnya adalah sikap tyaga. Inilah satu-satunya pilihan untuk menjaga kehormatannya di mata bangsa-bangsa seluruh jagat raya ini.

HANUMAN: Baik Rahwana, aku akan berusaha menyampaikannya dengan tanpa membuka rahasia ini.

RAHWANA: Nah Hanuman, jangan terlalu lama di sini. Pergilah wahai kesatria sakti mandraguna yang menjadi saksi segala jaman. Jangan lupa kau bawa serta Shinta sebagai lambang baktimu pada Rama dan Negeri Ayodya.

HANUMAN: Baiklah Rahwana, tampaknya kita memang harus berpisah. Meski aku tak pernah membayangkan kita akan berpisah dengan cara seperti ini. (Kepada SHINTA) Mari ikut hamba, Baginda Puteri.

SHINTA: Selamat tinggal Kanda Rahwana! Semoga kita akan berjumpa lagi.

RAHWANA: Kita pasti akan bertemu lagi. Pergilah kalian secepatnya, agar lakon ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, biar takdir yang menjalankan tugasnya.

RAHWANA dan SHINTA pergi.

ADEGAN 4

(Adegan pertempuran. Bisa hanya bunyi atau visual. Sementara RAHWANA mulai menyiapkan zirah perangnya. Pasukan Ayodya semakin mendekat.)

RAMA : (Off stage) Keluarlah Rahwana. Aku menantangmu bertempur!

RAHWANA: Aku tidak bersembunyi. Aku menunggumu di sini.

RAMA dan LEKSMANA masuk.

RAHWANA: Selamat datang Raja Ayodya.Selamat datang Leskmana Mari segera bertarung!

RAMA seperti hendak mengatakan sesuatu.

RAHWANA: Tidak usah mengatakan apa-apa Rama. Aku sudah tahu segala yang ingin kau katakan. Tidak perlu menceramahiku soal dharma ataupun Astha Bhrata. Aku sudah tahu semuanya.

LEKSMANA: Biar aku saja yang menghadapinya, Kakang!

RAMA: Aku saja Adhi. Ini urusan Kakang.

RAHWANA: Ha…ha…ha…Kalian boleh maju bersama-sama. Aku tidak gentar.Ha…ha…ha! Jadi kau bertempur hanya untuk seorang wanita, Rama. Kau korbankan ribuan orang hanya untuk itu. Tapi tak apa. Ayo kita mulai!

RAMA dan RAHWANA mulai bertarung. Mereka mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Begitu melihat RAMA terdesak, LEKSMANA ikut membantu. Terjadi pertarungan sengit sampai akhirnya RAHWANA mengambil posisi samadi dan RAMA mengeluarkan senjata pamungkas. RAHWANA gugur. Semuanya berkumpul, HANUMAN, WIBISANA, SHINTA masuk.

RAMA: (Kepada dua orang Prajuritnya) Kuburlah dia sebagai penghormatan dan peringatan.

Dua orang PRAJURIT menutup tubuh RAHWANA dengan kain lalu membawanya keluar panggung. Tapi tak berapa lama mereka kembali.

RAMA: Kenapa kalian kembali?

PRAJURIT 1: Tubuh Rahwana hilang Gusti!

RAMA: Apa? (Semua orang terkejut) Kalau begitu… HANUMAN, cari batu besar dan tanamkan di sini!

HANUMAN: Baik Gusti Prabu.

HANUMAN segera pergi mencari batu besar dan meletakkannya di tengah panggung.

RAMA: Dengar semua! Kalau ada yang bertanya tentang mayat Rahwana! Katakan tubuhnya sudah hancur dan diperabukan di sini! Batu ini adalah tanda peringatannya!

TAMAT

Malang, 28-29 Juni 2003


Naskah asli bisa diakses disini

No comments: