20081222

Paramita Hatiku





Minggu ini sungguh berat buatku. Benar-benar berat. Kalau ada yang pernah merasakan patah hati, percayalah yang kualami lebih daripada itu. Singkatnya, minggu ini adalah hari terakhir untuk sahabatku bekerja di kantor. Dia telah membuat keputusan untuk berhenti bekerja dan memilih untuk menemani suami yang bekerja di luar Jawa. Dirinyapun sedang hamil 5 bulan. Aku bisa mengerti keputusannya. Akan sangat egois untuk memintanya tinggal hanya untuk mendengar curhatan remeh-temehku dan menemaniku makan siang. Tapi sungguh semua itu sangat berharga bagiku.
Namanya Niken Paramita. Kami selalu bersekolah di tempat yang sama mulai SD. Hanya saja kami menjadi dekat sejak kuliah. Dia mengerti aku dan aku mengerti dirinya. Dia dewasa, itu yang paling kusuka darinya, meski pada faktanya dia lebih muda setengah tahun dariku. Kenyataannya akulah yang sering menumpahkan uneg-unegku padanya. Lainnya, dia orang yang netral. Jangan mengira dengan menjadi sahabatnya dengan otomatis dia akan membelamu dalam setiap konflik. Dia adalah orang yang memandang segala sesuatu dari luar kotak. Bisakah membayangkan aku yang Drama Queen ini menjadi temannya. Bisa dipastikan aku keseringan menggerutu karena merasa tidak dibela. Entah sebagai sesama wanita atau sebagai sahabat, tapi itulah dia…
The bottom line is, selama kami bersahabat dia sudah mematahkan hatiku sebanyak tiga kali. Dan ini patah hati sungguhan. Aku tidak memilih diksi itu tanpa alasan. Biar kubeberkan alasan patah hatiku satu per satu.
Alasan I: Dia menikah
Terus terang dahiku langsung berkerut waktu dia memutuskan menikah. I mean, siapa yang akan menemaniku ke mall, berputar-putar keliling kota untuk mencari sesuatu yang menarik. Itu kan artinya aku harus minta ijin suaminya setiap kali aku akan mengajaknya pergi. Oh, kemana larinya kebebasan kami. Aku tidak membenci suaminya karena dia pria yang baik. Aku hanya patah hati karena deep down inside aku merasa dia menduakan aku. Okay, aku merasa tersaingi. Sahabatku terenggut dariku. Namun sepertinya ini belum menjadi yang paling luar biasa.
Alasan II: Dia hamil
Tuhanku! Pria itu menghamilinya!!! Yeah, aku memang lebay. Apa yang salah dari seorang suami yang menghamili istrinya sendiri. Tapi lihat aku!! Lihat apa yang dia perbuat dengan merampas sahabatku dariku, sekarang dia memberinya kado yang sudah jelas akan menjauhkan aku darinya. No more watching cinema together, tidak ada lagi acara jalan-jalan. Ini jalan buntu.
Alasan III: Dia keluar dari kantor
Dia benar-benar ingin membunuhku!!! Dia adalah sebagian alasan yang membuatku tetap bekerja di tempat kerjaku sekarang. Aku punya teman yang memiliki nasib sama. Kami sering mengeluh bersama dan mentertawakan banyak hal bersama.
Alasan III adalah alasan yang paling dalam menyakitiku. Seminggu ini aku selalu menangis semalaman dan tidak bisa tidur sebelum pukul 02.00 pagi. Aku tidak bisa berhenti menyesali pengunduran dirinya. Aku tahu aku egois. Egois adalah nama tengahku, kawan. Setiap aku mendengar lagi Malaikat Juga Tahu punya Dewi Lestari aku bisa menangis dengan hebat. Aku bisa memenuhi kolam renang balita dengan air mataku. Aku benar-benar merasa tidak berdaya sekaligus sedih karena begitu egois padanya. Dia adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku bahkan sudah merindukan tawa kami. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengatasi kantor tanpa dia. Ini menyedihkan dan diluar kapasitasku sebagai gadis bodoh yang arogan dan egois. Sampai sekarang aku masih merasakan mataku berkaca-kaca setiap mengingat ini semua. Sayangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Patah hati ini mengalahkan patah hati pada seorang mantan pacar. Aku tidak pernah putus cinta dan merasa patah hati yang seperti ini. Kalau boleh kunyatakan, ini adalah patah hati terberat dalam hidupku. Bagaimana mungkin seorang Niken membuatku menangis malam-malam selama satu minggu penuh hingga aku merasa perlu untuk membicarakannya dengan Ra. Untungnya dia bisa memberiku rasa nyaman untuk kembali ke realita lagi. Meski belum sepenuhnya. Hatiku masih sakit dan memerlukan waktu yang lama untuk sembuh.
Hari Sabtu kemarin adalah hari terakhirnya ngantor. Kukuatkan hatiku untuk tidak menangis didepannya. Dia hamil dan dia tidak boleh menangis.
Aku hanya berharap nantinya segalanya akan sedikit lebih mudah untukku. Aku terlalu banyak kehilangan akhir-akhir ini dan semuanya menyakitkanku dengan keras. Semoga tahun depan akan menjadi tahun yang penuh berkah bagiku dan keluarga serta sahabat dan teman-teman dekatku.

Hugs,
Jingga

No comments: