20081211

Love Giveaway, Love for Free... GRATIS!!!




Sedang merenung lagi. Tentang cinta lagi... Akhir-akhir ini tema itu begitu akrab di kepala. Karib sekali dan tak mau lepas. Ada yang sedikit mengganjal tentang cinta. Mengapa cinta selalu identik dengan memiliki? Contohnya, kalau kita jatuh cinta pada sesuatu. Pas lagi jalan-jalan di mall, mata tertumbuk pada satu sosok keren yang ehm... Tiba-tiba saja sepasang sepatu yang lama diidamkan ada di depan mata. Ternyata, seperti yang sudah diduga, aksi selanjutnya adalah acara membobol ATM. Saya kalah lagi. Harus saya akui, itu tadi pengalaman saya dengan sepatu converse coklat saya.

Itu saya yang sedang jatuh hati pada seonggok sepatu, bagaimana dengan hati manusia yang jatuh cinta dengan manusia lain. Pasti rasa yang berkobar lebih dahsyat lagi. Lebih menggebu. Lebih obsesif.

Kenapa posesivitas itu harus ada? Kenapa segala sesuatu yang indah harus dimiliki? Kenapa kita tidak bisa bahagia dengan melihatnya dari jauh? Kenapa kita tidak bisa bahagia dengan kesempatan pertemuan yang terjadi? Jarang lho ada toko yang menjual Converse lama warna coklat incaran saya itu. Ketemu saja seharusnya sudah cukup membahagiakan, tanpa harus merogoh kocek untuk memiliki. Atau kalau ada kamera, kenapa tidak memotretnya saja? Sama saja kan? Sama-sama menjadi hak milik yang bisa dipandangi setiap waktu.

Sebagai informasi tambahan, sekarang sepatu coklat saya itu teronggok di tempat sepatu karena bagi saya sandal jepit itu jauh lebih nyaman. Apalagi kala hujan begini. Bisa-bisa converse saya kotor kena cipratan lumpur di luar sana.

Satu lagi sifat manusia. Over protektif. Padahal belum tentu juga jalan yang saya lewati akan banyak lumpurnya. Siapa tahu nanti di tengah jalan saya bertemu teman bermobil yang bersedia mengantar kemanapun saya mau.

Manusia terkadang terlalu parno. Mengira-ngira hal yang belum tentu terjadi. Berlagak sok peramal masa depan handal.

Kembali ke masalah cinta. Cinta terhadap orang lain, terhadap lawan jenis mungkin. Cinta seperti ini mendorong kita untuk berada lebih dekat dengan orang yang kita cintai. Kita ingin selalu berada di dekatnya, seakan-akan dia adalah sumber kebahagiaan kita. Cinta memang membahagiakan, tapi saya yakin bukan itu saja sebab kebahagiaan di muka bumi ini. Saya bukan skeptis, saya hanya mencoba untuk menggali hal lain, alternatif lain.

Setelah kedekatan terjalin, rasa cemburu selalu mengudara setiap ada orang lain yang berusaha menarik perhatian orang yang kita jatuhi cinta. Selamat datang ke fase penyiksaan pertama. Rasa tidak aman yang selalu mengikuti kemana kaki melangkah. Dari sini manusia mulai merasa “memiliki” manusia lain. Bertahta atas manusia yang lain. Berkuasa atas manusia yang lain. Menjadi diktator atas manusia yang lain, setidaknya nanti akan mengarah ke arah itu.

Disinilah rasa memiliki muncul.

Apakah cinta harus selalu memiliki? Pertanyaan besar abad ini. Saya dengan mudah bisa berkilah bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Toh, saya juga masih bisa menangis menggerung-gerung bila ”incaran” saya ternyata memilih wanita lain. Ya ya... saya berlebihan, namun saya yakin dalam hati Anda mengangguk setuju. Akui saja!

Saya tidak bermaksud untuk menggugat CINTA dengan menulis blog ini. Saya hanya ingin menggaris bawahi, mengingatkan kembali pada teman-teman semua bahwa cinta yang posesif tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik.

Saya pernah membaca buku entah penulisnya siapa, yang jelas ia berkata bahwa cinta itu seperti pasir di genggaman tangan kita. Semakin erat tangan kita menggenggamnya, maka semakin banyak pasir yang lolos keluar dari kepalan kita. Cara satu-satunya bagi pasir itu agar tetap ditempatnya adalah dengan membuka tangan kita. Saya tahu ini basi, tapi it works for me.

Bila hati Anda sedang berbunga-bunga karena seseorang, pertahankan perasaan bahagia itu selama mungkin dengan tidak terlalu memikirkan siapa saja saingan Anda, mengapa ia jarang meng-sms Anda, dan kapan ia terakhir kali menghubungi Anda. Nikmati kebersamaan dengannya. Berikan cinta Anda padanya. Berikan perhatian Anda dan lihat reaksinya. Tangkap kembali kebahagiaannya setiap Anda membelikannya makan malam. Terima rasa terima kasihnya untuk sebotol vitamin C yang Anda selipkan di lokernya. Tatap senyum bahagianya saat ia melihat Anda bertepuk tangan meriah setiap band-nya tampil. *Lho.. lho... ini ngomongin siapa? Yaaah ini buat contoh buat orang-orang yang punya pacar anak band. Band heavy metal, hip metal, rock, blues, jazz, reggae sampe orkes melayu.

Percayalah, cinta itu persoalan memberi. Bukan persoalan siapa akan berkuasa atas siapa. Bukan persoalan siapa menaklukkan siapa. Cinta tidak serumit itu...

Seperti lirik lagu reggae ciptaan seorang teman ”... yang sejati pasti kembali...”.

Jadi buat apa repot-repot membuat pagar di sekitarnya?? Untuk apa memberikan batasan-batasan yang pasti jauh dari kata nyaman...

Mungkin bagi Anda ini omong kosong. Setidaknya saya sudah menuangkan apa yang ada di pikiran saya. Selanjutnya, monggo kerso...

Stay in love!!!

Hugs,
Jingga

No comments: