20081228

KENAPA?


Akhirnya KENAPA yang selama ini kukhawatirkan terlontar dari mulutnya tanpa bisa kuhalangi. Aku terdiam tak bisa menjawab. Bisu seperti batu. Diam seperti tembok. Tiba-tiba aku kehilangan kemampuan berbicaraku.

Semua ini datang padaku dengan serta merta. Kedekatanku dengannya, kekagumanku padanya, kegilaanku akan musiknya, kebutaanku akan sifat-sifat buruknya, semuanya. Semuanya berawal dari sms iseng yang membangunkanku kala sahur.
“Bangun, Non. Waktunya sahur!”
Kami tidak pernah dekat sebelumnya. Bertemupun hanya sebatas berhai-hai saja kemudian saling berlalu. Tidak pernah ada sesuatu yang intens, sesuatu yang bisa membuat kami tertahan dalam ruang waktu yang sama untuk hal apapun.
Sms itu datang, dan semuanya bergulir begitu saja seperti bola salju yang makin lama makin membesar. Bulan puasa itu mengakrabkan kami. Hanya beberapa sms setiap hari, tapi saling menyejukkan dahaga.
Selanjutnya, semua berjalan begitu saja. Setiap perhatian yang tercurah, kepedulian yang meluncur deras seperti aliran sungai di musim penghujan. Tumpah ruah tanpa tahu kapan akan surut. Seperti bulan dan bintang. Berjarak tapi saling menyinari tanpa tahu kapan akan meredup.
Tiba-tiba saja menjadi bagian darinya terasa begitu penting. Mengomelinya soal jadwal makan yang tak pernah teratur dan seenak jidat. Menyentilnya ketika ia menghisap terlalu banyak nikotin. Memelototinya yang minum kopi sebelum sarapan pagi. Memarahinya dengan hati-hati karena minum terlalu banyak. Mengkhawatirkannya setengah mati karena yakin dia belum makan ketika bibirnya menyentuh botol-botol itu. Segala hal yang tidak penting, namun tiba-tiba menjadi pusat perhatianku. KENAPA? Itu pertanyaan yang paling tidak kusukai. Aku selalu merasa tertelanjangi dengan kata KENAPA. Seperti malam itu ketika ia menanyaiku KENAPA.
Dalam kehadirannya yang berjarak aku terdiam. Menyadari bahwa aku telah bertindak jauh tanpa kusadari. Aku memasuki ruangnya. Aku menyelami dirinya. KENAPA telah menyadarkanku. KENAPA?
Lidahku kelu, namun dia tetap menunggu jawaban. Aku harus menjawab. Oh, egois sekali dia! Merampas waktuku, menyita perhatianku, menyentuh kepedulianku, menggigiti rasa sayangku dan masih bertanya KENAPA. KENAPA harus ada pertanyaan KENAPA? Tidak bisakah aku melakukan segala sesuatu yang kusuka tanpa dihujani tanya KENAPA?
Detik berlalu. Dari ujung sana ia masih menunggu jawabanku.
”Aku seperti air. Aku mengalir ke tempat yang sudah ditentukan-Nya untukku. Kebetulan tempat itu menuju kamu. Aku tidak punya pilihan lain selain mengalir ke arahmu. Maafkan...”
Dia masih terdiam. Mencoba menalar kata-kataku.

”Ok”
Cuma itu yang terlontar dari bibirmu. Bahkan dari hamparan jarak ini aku mencium adanya tanya lain yang melintas. Sayang sekali aku tidak punya jawabnya.
Aku tidak tahu KENAPA semua ini mengarah padamu, KENAPA kamu menjadi begitu penting, KENAPA kesedihanmu menghampiriku juga, KENAPA lukamu memerihkanku, KENAPA airmatamu mengalir di pipiku, KENAPA bahagiamu menghangatkanku, KENAPA semua ini terjadi.
Kalau boleh aku ingin tetap disini. Hanya untuk mengingatkanmu makan, membelikan vitamin bila kamu sakit (andai saja kamu tidak sesulit itu menelan obat), mengomelimu karena terlalu banyak bersahabat dengan asap yang tidak bersahabat, memarahimu karena bersahabat terlalu erat dengan kafein, mengingatkanmu untuk makan sebelum minum, memelototimu yang terkadang lupa tidur, dan menjadi mesin pengingat yang tak pernah bosan meneriakkan segala asa dan cita yang kau miliki untuk tak lupa kau kejar.
Kumohon ijinkan aku.
Aku tidak akan mengusik ruangmu. Aku tidak akan membebani. Aku tidak akan menuntut hal yang sama darimu. Aku bahkan tidak berharap kau menoleh padaku. Bisakah kau menganggapku seperti rumput yang tumbuh di halaman rumahmu? Rumput yang tak pernah ingin diperhatikan tapi akan senantiasa memberi nuansa segar dan sejuk.
Percayalah, aku cuma ingin jadi rumput di halaman rumahmu. Yang kuinginkan hanya ruang untuk tumbuh.
Setidaknya hingga Drupadi datang. Tolong, jangan tanya KENAPA...
09:33
Dec 28th, 2008

No comments: