20081217

Jawaban yang Kutunggu


Aku tahu semuanya! Itu sudah terjadi!! Aku sudah tahu apa yang menjadi rahasianya selama ini. Sayangnya aku tidak siap dengan kebenaran itu. Terlalu menyesakkan. Aku jadi seperti menempelkan kepingan-kepingan jigsaw acak. Sayangnya setelah jigsaw itu sudah tertata dengan baik aku tidak bisa merusaknya kembali menjadi kepingan-kepingan terpisah sesuai keinginanku. Aku menyesal dengan rasa keingintahuanku yang meraja ini. Kalau ternyata seperti ini, lebih baik aku tidak tahu.

Kenapa kepedihannya terasa begitu nyata? Bisakah terbayangkan bila seseorang harus mendatangi rumah kekasihnya yang sedang melangsungkan pernikahan. Pedihnya tidak terbayangkan. Pada saat itu aku bertemu dengannya disana aku mencium bau alkohol, tapi aku diam saja. Sekarang aku memahaminya. Paham sekali! Bahkan bila ia datang dengan pedang terhunus atau dengan keris yang keluar dari sarungnya, sungguh aku mengerti.

Puisi-puisi itu! Sudah pasti itu miliknya. Aku hafal diksinya. Aku hafal gaya menulisnya. Aku hafal semuanya...

Hatiku teriris. Aku tidak bisa membayangkan harus menjalani apa yang dijalaninya. Terlampau berat buatku yang rapuh ini.

Semuanya begitu jelas sekarang. Kemarin malam terasa begitu panjang. Mataku sulit terpejam. Kucoba menelponnya. Tengah malam lewat. Aku memang gila. Aku mencoba menenangkan diriku. Perasaan ini... Aku tidak tahu apa namanya.

Aku sendiri tidak mengerti. Ini seperti deja vu. Mengapa aku merasakan sakit yang sama dengan sakitnya? Mengapa aku bisa merasakannya? Kami bahkan tidak sedekat itu. Air mataku tumpah untuk kesakitannya. Aku menangisi luka yang bukan milikku. Sepertinya aku yang sakit. Sepertinya aku yang terluka. Gelombang depresi itu, kesedihan itu, keputusasaan itu... Semua terasa sungguh nyata. Sungguh sulit dibayangkan sebelumnya! Tapi ternyata turut merasakannya adalah pilihan yang salah... Aku tidak kuat menjalaninya. Hanya semalam itu aku mencoba berjalan di jalurnya... Aku tidak kuat dan terlempar dari sana...

Apa ini? Cinta tidak seperti ini? Setidaknya tidak sepengetahuanku. Aku pernah jatuh cinta, dan rasanya tidak seperti ini.

Aku seperti arwah yang masuk ke raga orang lain. Aku turut merasakan semua yang dialaminya. Menangis untuknya. Aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku menangis. Bukan aku yang mengalami sakit itu... Bukan...

Aku jadi semakin tidak mengerti asa apa yang bersemayam dalam diriku...

Apa artinya ini??

Hugs,
Jingga

No comments: