20081231

Penting gak penting




Sudah tiga minggu ini kebiasaanku telpon Rahwana sampe jam 3 pagi bener2 mengerikanku...
Asem!! Emangnya dia siapa sampe bikin aku nggak ngantuk sampe jam 3 pagi??
Aku gak insomnia (kadang doang!) dan acara ngobrol sampe malem ini bener2 gak penting...
Ya gak sih???
Arrrrgghhh!!

Dia mengalahkanku pula dengan sms yang bunyinya,

"Gombal, Bu"

Oh God, aku langsung ilfil...
Pengen banget nip-ex sms terakhir yg kukirim buat dia. Apa daya? Itu gak mungkin...

Kasiane...

Kena deh akyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu *tepok jidat

Hugs,
Jingga


ps:
Rahwana itu lebih playboy dari playboy2 kelas kakap yg perna kukenal. Saludos!

20081230

Rahwana by Abdul Mukhid



RAHWANA

Karya: Abdul Mukhid

REPORTOAR PEMBUKA

(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)

RAHWANA: (Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.

(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA: Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA: (Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA: Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA: Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi. Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA: Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA: Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA: (Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA: (Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat

SHINTA: Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.

RAHWANA: Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu.(Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA: (Mulai mencucurkan airmata) Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA: (emosional) Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA terduduk dan menangis sejadi-jadinya.

ADEGAN 2

(Suasana sekitar berubah. Seperti ada guncangan dahsyat sebentar, lalu tenang kembali. SHINTA mematung. Sementara RAHWANA tampak kebingungan. Lalu terdengar suara dari SHINTA tapi dengan warna suara yang berbeda.)

SHINTA: Mendekatlah kemari, Rahwana. (RAHWANA tampak kebingungan mencari sumber suara. Lalu mengarahkan pandangan ke arah SHINTA. RAHWANA masih ragu) Iya, kemari!

Rahwana mendekat.

SHINTA: Tataplah wajahku baik-baik. (RAHWANA menatap wajah SHINTA dalam-dalam) Kau tahu siapa aku kan, Rahwana?

RAHWANA: (menjatuhkan tubuhnya ke lantai untuk menyembah) Aduh, ampuni hamba Guru Sejati..Mata hati hamba ternyata masih buta.

SHINTA: Bangkitlah, dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini.

RAHWANA bangkit dan mendengarkan dengan seksama.

SHINTA: Rahwana, semua yang dikatakan Shinta tadi adalah benar adanya. Ini memang takdir yang harus kalian jalani. Ini baru batu awal ujian yang harus kalian tempuhi untuk menjadi manusia sejati, sejati-jatinya manusia. Manusia yang bukan sekedar perwujudan darah dan daging, tapi sebagai ciptaan Sang Mahatunggal yang kelak juga harus kembali kepada Sang Hyang Tunggal.

RAHWANA: Hamba mengerti, Guru.

SHINTA: Nah, Rahwana. Kenapa kalian harus diuji? Barangkali karena perasaan duniawi yang mulai mengikat kalian. Cinta yang merebak dalam hati kalian telah menjelma menjadi sesuatu yang melebihi kecintaan kepada Hyang Tunggal. Dia ingin memperingatkan kalian untuk tidak menganggap segala yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang kekal. Dia tidak ingin kalian lupa pada tujuan sejati kalian. Ingatlah, rasa ingin memiliki dunia ini hanya akan mengantarkan kalian pada kesengsaraan. Kau boleh mencari dan memiliki apa yang ada di dunia ini, tapi jangan sekali-kali kau mengikatkan hatimu padanya.

RAHWANA: Hamba mengerti, Guru. Hamba telah melakukan kelailaian.

SHINTA: Bagus, kalau kau mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Rahwana, peperangan tidak akan terelakkan lagi. Sebagai manusia, berusahalah untuk mencegah perang ini, meski pada akhirnya bala tentara Rama akan menyerang negeri Alengka apapun yang jadi penyebabnya. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini memang peringatan bagi bangsamu yang lupa akan kemakmuran yang sudah dilimpahkan Sang Mahamurah. Banyak diantara rakyat dan pejabatmu yang melakukan berbagai tindak adharma. Mereka saling merampas dan mencuri, menghardik dan mencaci, memakan benda-benda yang bukan hak mereka atau yang dilarang oleh Sang Pencipta. Ini memang harus diterima bangsamu. Ini akan menjadi pertanda bagi siapa saja yang melupakan kasihNya, mengabaikan nikmatNya dan menantang kuasaNya.Nah, bersamadilah untuk mensucikan dirimu sambil menunggu Rama mengantarmu ke haribaan Sang Sejati. Selain itu Anakku, fitnah akan tersebar tentangmu setelah ini. Bersabarlah. Orang-orang akan memfitnahmu sebagai raja yang lalim dan manusia tak beradab. Mereka akan menjulukimu sebagai Dasamuka yang memiliki sepuluh macam keinginan. Sekali lagi, bersabarlah. Itu memang sudah menjadi konsekuensimu karena menginginkan Shinta. Jika kau berhasil mengalahkan keinginanmu terhadap Shinta dan melawan segala hasratmu untuk menyalahkan takdir, engkau akan mencapai derajat yang amat tinggi di Mata Hyang Widi, Anakku.

RAHWANA: Hamba mengerti, terima kasih Guru. Hamba akan laksanakan segala petunjuk Guru.

(Terjadi keguncangan lagi. SHINTA seperti terbangun dari tidur sementara RAHWANA tampak tenang.)

ADEGAN 3

SHINTA: (Setelah kembali kesadarannya sebagai Shinta) Kanda Rahwana? Kanda tidak apa-apa.

RAHWANA: Tidak, Dinda.

Keduanya bangkit.

RAHWANA: Sebentar, Dinda. Ada yang mengintip kita. (Tidak jelas ke arah mana) Keluarlah, Hanuman. Aku tahu kau mengintip kami sedari tadi.

Tiba-tiba muncul HANUMAN

HANUMAN: (Bersimpuh untuk menyembah) Sembah sujud hamba, Paduka Raja!

RAHWANA: (Tertawa kecil) Ayolah, tidak usah begitu. Bukankah kita sudah sama-sama tahu. Tidak usah memanggilku dengan sebutan "Paduka Raja". Yang ada di depanmu ini Rahwana, seorang manusia yang sedang bergulat mencari kesejatian. Jangan pandang mahkota yang kukenakan, duhai Kera Putih.

HANUMAN: Baiklah, Rahwana.

RAHWANA: Kau tahu semuanya kan, Hanuman?

HANUMAN: (Sedikit terkejut) Ya. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku mengintip, padahal….

RAHWANA: Ha…ha…ha. Hanuman, aku tahu kau memiliki kesaktian yang luar biasa. Mata biasa tidak akan bisa menangkap kehadiranmu. Ketahuilah Hanuman, sebenarnya aku tidak hanya mengetahui kehadiranmu, tapi juga apa yang ada di pikiranmu.

HANUMAN: Maafkan aku Rahwana, jika aku meremehkan kemampuanmu. Aku tahu kau juga seorang raja yang sakti pilih tanding. Tapi mengapa kau biarkan saja aku, kalau engkau memang tahu?

RAHWANA: Aku ingin engkau menjadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin engkau menjadi saksi cinta sejatiku kepada Shinta, meski orang akan mengira bahwa kecintaanku tak lebih karena nafsu belaka. Aku ingin kau tahu, bahwa akhirnya aku mau melepaskan segala ikatan dengan dunia ini. (RAHWANA menghela napas dalam-dalam) Dengar Hanuman, seandainya aku mau menggunakan seluruh kekuatanku, aku mampu menghancurkan Rama beserta seluruh bala tentaranya. Tapi tidak Hanuman, aku tak mau menjadi budak nafsu pribadiku.

HANUMAN: Aku mengerti, Rahwana.

RAHWANA: Hanuman!

HANUMAN: Iya, Rahwana.

RAHWANA: Aku minta jangan kau sebarkan apa yang sudah kita bicarakan ini. Mereka tidak akan mengerti. Dan lagi, itu akan merusak tatanan takdir yang harusnya aku terima dengan tulus.

HANUMAN: Aku mengerti.

RAHWANA: Berjanjilah, Hanuman.

HANUMAN: Aku berjanji.

RAHWANA: Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kumbakarna sudah menunggu kematiannya lewat tanganmu. Dia akan sangat bahagia bisa mati di tanganmu.

HANUMAN Terlihat mulai menitikkan air mata demikian pula dengan SHINTA.

RAHWANA: Jangan, Hanuman. Jangan bersedih atas takdir yang akan aku jalani. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan awal kebahagiaanku bersama Sang Sejati. Pergilah cepat. Jangan sampai ada orang yang melihat dan mendengar percakapan kita ini.

HANUMAN: Baiklah, aku pergi. (Kepada SHINTA) Hamba pergi, Tuan Puteri. Percayalah, saya akan selalu berada di belakang Tuan Puteri.

SHINTA: (Dengan sesenggukan) Pergilah, Kera Kesatria. Jangan khawatirkan aku.

HANUMAN keluar.

ADEGAN 4

RAHWANA: (Kepada SHINTA) Kenapa menangis, Shinta? Bukankah kau yang mengingatkanku untuk bersabar?

SHINTA: Aku tidak bisa menahan kerapuhanku sebagai manusia, Kakanda.

RAHWANA: Kalau begitu, doakan saja aku supaya termasuk orang-orang yang sabar.

SHINTA: Tentu saja, Kanda Rahwana.

RAHWANA: Aku juga akan selalu mendoakanmu, karena yang akan kau alami sesudah ini bukannya lebih ringan dariku. Kesucianmu akan diragukan oleh Rama.

SHINTA: Aku sudah siap. Bahkan dibakar di atas api suci pun aku tak akan mengelak.

RAHWANA: Sekarang tinggalkan aku, Shinta. Beristirahatlah kau di kamar istana yang sudah aku siapkan.Aku ingin samadi. Tapi sebelum itu panggilkan Wibisana sebelum dia pergi menemui Rama. Ada pesan yang ingin kusampaikan.

SHINTA keluar.

ADEGAN 5

RAHWANA: Datanglah, duhai Sang Maut. Telah lama kunanti diriMu. Biarlah dunia ini menjadi milik mereka yang terpedaya. Biarlah kesejatian cintaku lebur ke haribaan Sang Maha Kasih.

Hening sesaat. RAHWANA mengambil sikap duduk bersila. WIBISANA masuk.

WIBISANA: Kakang memanggilku.

RAHWANA: Oh, Wibisana. Mendekatlah kemari.

WIBISANA mendekat.

WIBISANA: Apakah ini soal keberpihakanku kepada Rama, Kanda Prabu?

RAHWANA: (Tersenyum) Bukan. Aku sangat menghargai pilihanmu berperang di pihak Rama. Cuma, sebelum kamu berangkat aku ingin menitipkan pesan.

WIBISANA: Pesan? Kepada Rama?

RAHWANA: Ya. Katakan kepada Rama, aku akan memberikan Shinta dengan suka rela jika dia memintanya kepadaku dengan baik-baik.

WIBISANA: Aku tidak yakin Rama akan mempercayai isi pesan Kanda.

RAHWANA: Apapun jawabannya. Sampaikan saja, pesanku.

WIBISANA: Baik, Kanda. (PAUSE) Dengar Kanda, bagaimanapun aku tetap menyayangi Kanda Rahwana. Tapi banyak pandangan kita yang berbeda. Di samping itu, soalnya adalah bahwa Rama adalah guruku.

RAHWANA: Aku mengerti, Adhi. Sudahlah, jangan sentimentil begitu. Pergilah kau layaknya seorang kesatria. Jangan kecewakan Kakandamu sebagai kesatria.

WIBISANA: Baiklah Kanda Prabu, saya pergi.

WIBISANA pergi. RAHWANA memulai samadinya.

Lampu padam/Layar Turun

BABAK DUA

ADEGAN 1

Siang hari keesokan harinya. Rahwana masih tenggelam dalam samadinya. Sementara pertempuran sengit tengah berlangsung. Penggambaran pertempuran bisa lewat siluet di layar. Terserah kreatifitas sutradara. Sesudah penggambaran pertempuran, ada dua orang mentri kepercayaan menghadap Rahwana yang sedang samadi, dan membangunkan samadinya.

MENTRI 1: Maafkan hamba, jika mengganggu Samadi, Paduka.

RAHWANA: Silahkan, Paman.

MENTRI 2: Ada berita buruk yang hendak kami sampaikan, Gusti.

RAHWANA: (Menarik napas) Hm…ini tentang Kumbakarna, kan?

MENTRI 1: Betul, Gusti.

RAHWANA: Aku sudah tahu.

Kedua mentri berpandangan dengan perasaan heran.

RAHWANA: Aku tahu, Kumbakarna dipotong kepalanya oleh Hanuman. Lalu kepala itu ditanam di atas bukit. (Tersenyum) Bukan Paman. Ini bukan berita buruk. Ini Sudah lama dinantikan Kumbakarna. Bahkan sebelum berangkat ke medan laga, dia meminta kalungan bunga telasih yang menjadi simbol bahwa dia ingin melepaskan ikatan dari keduniawian.

MENTRI 1 & 2: Hamba mengerti, Gusti.

RAHWANA: Ketahuilah Paman-Pamanku yang setia. Kekalahan Alengka ini memang sudah suatu keniscayaan. Darah yang mengalir di sungai-sungai adalah batu peringatan bagi siapa saja yang terlalu mengagungkan kemakmuran dan kejayaan duniawi. Maka dari itu Paman, jangan sekali-kali mengikatkan diri pada dunia. Jangan sekali-kali terbujuk oleh kesementaraan. Kalian boleh memiliki perhiasaan dan kekayaan duniawi, tapi hendaklah ingat bahwa semua itu hanyalah mimpi. Ingat itu baik-baik.

MENTRI 1 & 2: Hamba, Gusti.

RAHWANA: Nah, sekarang pergilah kalian. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Pergi dan selamatkan diri dan keluarga kalian.

MENTRI 1 & 2: Tapi Gusti…

RAHWANA: Sudahlah. Pergilah kalian. Aku tak butuh perlindungan. Saatku memang sudah tiba. Aku sudah melihat para bidadari menyiapkan permadani di Nirwanaloka. Pergilah, sebelum kalian dicincang oleh bala tentara Rama Wijaya.

MENTRI 1 & 2: Kami akan selalu mematuhi perintah, Paduka.

Tiba-tiba masuk seorang PRAJURITt dengan tergopoh-gopoh.

PRAJURIT: Sembah sujud hamba, Paduka.

RAHWANA: Ada apa, Prajurit?

PRAJURIT: Pasukan Rama Wijaya mulai menggempur pintu gerbang, Paduka. Sebentar lagi mereka akan memasuki halaman kerajaan.

RAHWANA: Berjuanglah terus kalian dengan gagah berani. Jangan sisakan satu prajurit pun di Istana. Aku tidak membutuhkan perlindungan kalian. Tunjukkan pada Rama dan dunia bahwa bangsa Alengka bukan bangsa yang kerdil dan mau saja tunduk di bawah kaki Rama Wijaya. Pergi dan sampaikan pesanku ini kepada seluruh prajurit.

PRAJURIT: Baik Gusti, hamba mohon diri.

PRAJURIT keluar.

RAHWANA: Nah, mentri-mentri yang setia. Pergilah kalian. Kejayaan Alengka sudah berakhir. Pergi dan ingat-ingat selalu apa yang telah aku pesankan kepada kalian.

MENTRI 1: Baik, Gusti. Kami mohon diri.

KEDUA MENTRI keluar.

ADEGAN 2

RAHWANA: Oh keindahan yang menipu, sebentar lagi aku akan segera meninggalkanmu. Meninggalkanmu untuk bertemu dengan keindahan sejati. Oh, istana yang dibangun oleh keringat berjuta manusia. Leburlah kau menjadi batu-batu. Jadilah kalian kenangan bahwa pernah ada sebuah bangsa yang berjaya, tapi harus menemui kehancurannya dikarenakan kesombongan dan ketamakan manusia. Oh Rama, datanglah Mautku. Aku siap menyambutmu.

Masuk SHINTA

SHINTA: Kanda Rahwana.

RAHWANA: Dinda Shinta, kenapa kau kemari? Bukankah sebaiknya kau beristirahat?

SHINTA: Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak kuasa membayangkan kengerian ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya kita harus berpisah. Bagaimanapun juga aku tetap manusia biasa, Kakang.

RAHWANA: Oh Dewi Kesucian! Aku juga bisa merasakan apa yang menjalar di aliran darahmu. Di dalam darahku juga mengalir kepedihan yang sama. Tapi dengarlah wahai lambang kesucian yang akan diabadikan manusia sepanjang masa! Pada hakikatnya kita tidak pernah berpisah. Bukankah kita berasal dari nafas yang sama? Bukanlah badan ini hanya perwujudan semu belaka? Bukankah kita ini hanyalah anak-anak sungai yang pada akhirnya mengalir di samudra yang sama? Jika semua orang mampu memahami ini, niscaya tidak akan ada kedukaan dalam batinnya. Tidak akan ada tetes airmata yang sanggup melunturkan keteguhannya.

SHINTA: Tapi…kenapa, kenapa kita harus menanggung semua fitnah ini? Mengapa harus kita harus menjadi sasaran panah-panah kecurigaan hati manusia?

RAHWANA: Dengarlah wahai Shinta Suci. Tidak ada duka atau bahagia. Semua itu hanyalah batu-batu ujian untuk menguji kesejatian cinta kita kepada Sang Mahasuci.

SHINTA: Syukurlah, kalau Kanda sudah memahami semuanya!

RAHWANA: Sang Penguasa Jagat telah menyampaikan pemahaman itu lewat dirimu, Adinda. Maka, hapuslah airmatamu dan hadapilah Sang Nasib bagaikan menyambut kicauan burung di pagi hari.

ADEGAN 3

HANUMAN datang dengan tergesa. RAHWANA dan SHINTA terkejut.

HANUMAN: Rahwana.

RAHWANA: Hanuman? Bukankah kau seharusnya ada di medan laga?

HANUMAN: Aku ingin memberi penghormatan terakhir padamu. Bala tentara Ayodya beserta pasukan kera sudah semakin dekat dengan istana.

RAHWANA: Terima kasih, Hanuman. Aku sudah siap menyambut mautku. (PAUSE) Dengar Hanuman, aku ingin mengungkapkan sebuah rahasia. Hanya kita bertiga yang boleh mengetahuinya.

HANUMAN: Apa itu Rahwana?

RAHWANA: Kau tahu, aku tidak mungkin dibunuh dengan senjata apapun. Maka dari itu, katakan pada bala tentara Ayodya msupun pasukan wanara dari Gua Kiskenda, aku hanya mau bertarung dengan Rama. Hanya dengan Rama. Suruh saja mundur Anila, Anggada bahkan Leksmana sekalipun.

Hening sesaat

RAHWANA: Aku akan melayani Rama untuk bertarung. Bila aku sudah melihat Sang Yamadipati, Sang Maut Penjemputku, maka aku akan melakukan tyaga. Aku akan matiraga. Akan kulepaskan sendiri nyawaku dan menyerahkannya pada Si Pencabut Nyawa. Maka sampaikanlah kepada Rama, agar dia melepaskan senjata pamungkas Bhramastra ketika aku mengambil sikap samadi yang tak lain sebenarnya adalah sikap tyaga. Inilah satu-satunya pilihan untuk menjaga kehormatannya di mata bangsa-bangsa seluruh jagat raya ini.

HANUMAN: Baik Rahwana, aku akan berusaha menyampaikannya dengan tanpa membuka rahasia ini.

RAHWANA: Nah Hanuman, jangan terlalu lama di sini. Pergilah wahai kesatria sakti mandraguna yang menjadi saksi segala jaman. Jangan lupa kau bawa serta Shinta sebagai lambang baktimu pada Rama dan Negeri Ayodya.

HANUMAN: Baiklah Rahwana, tampaknya kita memang harus berpisah. Meski aku tak pernah membayangkan kita akan berpisah dengan cara seperti ini. (Kepada SHINTA) Mari ikut hamba, Baginda Puteri.

SHINTA: Selamat tinggal Kanda Rahwana! Semoga kita akan berjumpa lagi.

RAHWANA: Kita pasti akan bertemu lagi. Pergilah kalian secepatnya, agar lakon ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, biar takdir yang menjalankan tugasnya.

RAHWANA dan SHINTA pergi.

ADEGAN 4

(Adegan pertempuran. Bisa hanya bunyi atau visual. Sementara RAHWANA mulai menyiapkan zirah perangnya. Pasukan Ayodya semakin mendekat.)

RAMA : (Off stage) Keluarlah Rahwana. Aku menantangmu bertempur!

RAHWANA: Aku tidak bersembunyi. Aku menunggumu di sini.

RAMA dan LEKSMANA masuk.

RAHWANA: Selamat datang Raja Ayodya.Selamat datang Leskmana Mari segera bertarung!

RAMA seperti hendak mengatakan sesuatu.

RAHWANA: Tidak usah mengatakan apa-apa Rama. Aku sudah tahu segala yang ingin kau katakan. Tidak perlu menceramahiku soal dharma ataupun Astha Bhrata. Aku sudah tahu semuanya.

LEKSMANA: Biar aku saja yang menghadapinya, Kakang!

RAMA: Aku saja Adhi. Ini urusan Kakang.

RAHWANA: Ha…ha…ha…Kalian boleh maju bersama-sama. Aku tidak gentar.Ha…ha…ha! Jadi kau bertempur hanya untuk seorang wanita, Rama. Kau korbankan ribuan orang hanya untuk itu. Tapi tak apa. Ayo kita mulai!

RAMA dan RAHWANA mulai bertarung. Mereka mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Begitu melihat RAMA terdesak, LEKSMANA ikut membantu. Terjadi pertarungan sengit sampai akhirnya RAHWANA mengambil posisi samadi dan RAMA mengeluarkan senjata pamungkas. RAHWANA gugur. Semuanya berkumpul, HANUMAN, WIBISANA, SHINTA masuk.

RAMA: (Kepada dua orang Prajuritnya) Kuburlah dia sebagai penghormatan dan peringatan.

Dua orang PRAJURIT menutup tubuh RAHWANA dengan kain lalu membawanya keluar panggung. Tapi tak berapa lama mereka kembali.

RAMA: Kenapa kalian kembali?

PRAJURIT 1: Tubuh Rahwana hilang Gusti!

RAMA: Apa? (Semua orang terkejut) Kalau begitu… HANUMAN, cari batu besar dan tanamkan di sini!

HANUMAN: Baik Gusti Prabu.

HANUMAN segera pergi mencari batu besar dan meletakkannya di tengah panggung.

RAMA: Dengar semua! Kalau ada yang bertanya tentang mayat Rahwana! Katakan tubuhnya sudah hancur dan diperabukan di sini! Batu ini adalah tanda peringatannya!

TAMAT

Malang, 28-29 Juni 2003


Naskah asli bisa diakses disini

20081228

KENAPA?


Akhirnya KENAPA yang selama ini kukhawatirkan terlontar dari mulutnya tanpa bisa kuhalangi. Aku terdiam tak bisa menjawab. Bisu seperti batu. Diam seperti tembok. Tiba-tiba aku kehilangan kemampuan berbicaraku.

Semua ini datang padaku dengan serta merta. Kedekatanku dengannya, kekagumanku padanya, kegilaanku akan musiknya, kebutaanku akan sifat-sifat buruknya, semuanya. Semuanya berawal dari sms iseng yang membangunkanku kala sahur.
“Bangun, Non. Waktunya sahur!”
Kami tidak pernah dekat sebelumnya. Bertemupun hanya sebatas berhai-hai saja kemudian saling berlalu. Tidak pernah ada sesuatu yang intens, sesuatu yang bisa membuat kami tertahan dalam ruang waktu yang sama untuk hal apapun.
Sms itu datang, dan semuanya bergulir begitu saja seperti bola salju yang makin lama makin membesar. Bulan puasa itu mengakrabkan kami. Hanya beberapa sms setiap hari, tapi saling menyejukkan dahaga.
Selanjutnya, semua berjalan begitu saja. Setiap perhatian yang tercurah, kepedulian yang meluncur deras seperti aliran sungai di musim penghujan. Tumpah ruah tanpa tahu kapan akan surut. Seperti bulan dan bintang. Berjarak tapi saling menyinari tanpa tahu kapan akan meredup.
Tiba-tiba saja menjadi bagian darinya terasa begitu penting. Mengomelinya soal jadwal makan yang tak pernah teratur dan seenak jidat. Menyentilnya ketika ia menghisap terlalu banyak nikotin. Memelototinya yang minum kopi sebelum sarapan pagi. Memarahinya dengan hati-hati karena minum terlalu banyak. Mengkhawatirkannya setengah mati karena yakin dia belum makan ketika bibirnya menyentuh botol-botol itu. Segala hal yang tidak penting, namun tiba-tiba menjadi pusat perhatianku. KENAPA? Itu pertanyaan yang paling tidak kusukai. Aku selalu merasa tertelanjangi dengan kata KENAPA. Seperti malam itu ketika ia menanyaiku KENAPA.
Dalam kehadirannya yang berjarak aku terdiam. Menyadari bahwa aku telah bertindak jauh tanpa kusadari. Aku memasuki ruangnya. Aku menyelami dirinya. KENAPA telah menyadarkanku. KENAPA?
Lidahku kelu, namun dia tetap menunggu jawaban. Aku harus menjawab. Oh, egois sekali dia! Merampas waktuku, menyita perhatianku, menyentuh kepedulianku, menggigiti rasa sayangku dan masih bertanya KENAPA. KENAPA harus ada pertanyaan KENAPA? Tidak bisakah aku melakukan segala sesuatu yang kusuka tanpa dihujani tanya KENAPA?
Detik berlalu. Dari ujung sana ia masih menunggu jawabanku.
”Aku seperti air. Aku mengalir ke tempat yang sudah ditentukan-Nya untukku. Kebetulan tempat itu menuju kamu. Aku tidak punya pilihan lain selain mengalir ke arahmu. Maafkan...”
Dia masih terdiam. Mencoba menalar kata-kataku.

”Ok”
Cuma itu yang terlontar dari bibirmu. Bahkan dari hamparan jarak ini aku mencium adanya tanya lain yang melintas. Sayang sekali aku tidak punya jawabnya.
Aku tidak tahu KENAPA semua ini mengarah padamu, KENAPA kamu menjadi begitu penting, KENAPA kesedihanmu menghampiriku juga, KENAPA lukamu memerihkanku, KENAPA airmatamu mengalir di pipiku, KENAPA bahagiamu menghangatkanku, KENAPA semua ini terjadi.
Kalau boleh aku ingin tetap disini. Hanya untuk mengingatkanmu makan, membelikan vitamin bila kamu sakit (andai saja kamu tidak sesulit itu menelan obat), mengomelimu karena terlalu banyak bersahabat dengan asap yang tidak bersahabat, memarahimu karena bersahabat terlalu erat dengan kafein, mengingatkanmu untuk makan sebelum minum, memelototimu yang terkadang lupa tidur, dan menjadi mesin pengingat yang tak pernah bosan meneriakkan segala asa dan cita yang kau miliki untuk tak lupa kau kejar.
Kumohon ijinkan aku.
Aku tidak akan mengusik ruangmu. Aku tidak akan membebani. Aku tidak akan menuntut hal yang sama darimu. Aku bahkan tidak berharap kau menoleh padaku. Bisakah kau menganggapku seperti rumput yang tumbuh di halaman rumahmu? Rumput yang tak pernah ingin diperhatikan tapi akan senantiasa memberi nuansa segar dan sejuk.
Percayalah, aku cuma ingin jadi rumput di halaman rumahmu. Yang kuinginkan hanya ruang untuk tumbuh.
Setidaknya hingga Drupadi datang. Tolong, jangan tanya KENAPA...
09:33
Dec 28th, 2008

20081224

Niken lagi... :(





Satu dalam seribu kurasa sepadan dengan airmata ibu...
Berbahagialah mereka berkarib jingga ketika beranjak ayun purnama

Semula sua
Sementara jua
Bermula dua
Mendua pula

Kalau ada satu dalam seribu
Mengapa galau dalam menunggu
Tidakkah satu juga tentu
Rindu merengek temu

Relakan biru
Bahtera mereka
samudra tlah menyeru


-Rahwana-

2008/12/24
14:36



Kemaren sore rindu itu melanda lagi. Pemicunya sesuatu yang remeh. Aku mencari-cari gambar di telepon genggam. Gambarku dengan sahabatku, Niken. Ternyata ada banyak sekali dan semuanya seperti mencubiti kaki dan lenganku. Kenangan-kenangan indah itu. Semuanya. Semuanya menyeruak ke permukaan.

Ada foto kami ketika menginap di rumah Tika, another dearest bestfriend. Kami bicara sampai larut malam. Ada juga fotoku dengan Niken ketika menghadiri pernikahan seorang teman. Kami berdua begitu katrok karena jarang menghadiri pernikahan di hotel berbintang. Kami berfoto di toilet.

Aku tidak tahu harus berbagi ini dengan siapa. Menyesakkan. Akhirnya kukirim sms ke Rahwana. Dia tidak membalasnya. Aku tidak terkejut karena dia begitu moody dan sms sering merepotkannya. Hari ini. Saat ini dia membalas smsku. Seperti yang terbaca di atas. Ia benar. Aku harus mulai merelakan Niken. Toh dia tidak akan pergi jauh. Hanya Bali, sekali lompatan melewati selat Bali aku bisa menemuinya lagi.

Mungkin aku hanya berada di puncak kesepianku. Mungkin dia adalah satu-satunya yang terdekat di hatiku saat ini. Saat aku tidak punya pacar dan tidak begitu memusingkannya sampai Niken benar-benar memutuskan pergi.

Aku benar-benar melewati saat yang sulit. Semoga ini tidak berkepanjangan. Aku mulai lelah dan dayaku hampir habis.

Hugs,

Jingga

ps:
kenapa jadi muram begini ya?

20081223

Klik!



Ku ambil gambarmu…
Kubekukan waktu…
Kuhentikan tempo…

Aku ingin saat ini abadi
Aku ingin ini selamanya

Kau terlihat agung
Terlihat jauh namun berbinar indah
Suatu pancaran yang tak pernah terlintas sebelumnya

Hanya bayangmu
Cuma itu saja yang kugenggam
Hanya binar cahayamu saja yang sanggup kupandang lama

Tak bisa lebih dekat lagi
Karena waktu mulai berdetik
Lintangku, kau berlalu melanglang tak tercapai penglihatan

Erat kugenggam kameraku
Bersiap menangkap binarmu yang pasti lewat
Nanti...
Dalam putaran waktu yang berbeda
Di tempat berpijak yang tak sama

~untuk Rahwana yang berpendar di gelap pantaiku

20:33
22 Dec 08

20081222

Mendungku?


Jika ini mengenai kejadian
Kenapa harus rumput bukan batu
Batu kan tidak perlu kesuburan hujan apalagi mendung dan awan
Bahkan tidak perlu hidup
Sedang rumput..?
O h..
Coba kutebak
Itu tentang keinginan hidupmu
Semisal kamu rumput
Perihal asal mula
Tentang kebutuhan
Perlakuan
Dan sebagainya.
Segala dari, oleh, dan untuk hidup
Rumput butuh air agar nafas dan nadinya tak terhenti
Itu yang mencipta dahaganya akan hujan
Sepekat-pekat mendung ada yang menunggu ia turun
Harga yang pantas untuk hujan
Pilihan yang cerdas dan bijak, Nona...
Menjadi dan memperlakukan pemberi hidup
Lain hal dengan tawaranku menjadi batu
Batu perlu air untuk membuktikan kekerasannya
Sesuatu yang bisa menerobos pori tanpa melukai bentuknya
Ia butuh air dalam kematiannya
Karena itu membuktikan keberadaannya
Keyakinan akan ketentuan
Sesuatu yang bisa dibuktikan oleh pintarnya pemahaman
Dengan begitu tidak penting lagi
orang mempermasalahkan kebatuan atau kematiannya
Entah sudah kamu pikirkan atau belum
Tapi dengan kecerdasan, kamu akan mengerti
Seperti pengertianku kenapa mempercayaimu.
Itu yang kupahami

Oleh:
Ra
2008/12/22
03:25

Paramita Hatiku





Minggu ini sungguh berat buatku. Benar-benar berat. Kalau ada yang pernah merasakan patah hati, percayalah yang kualami lebih daripada itu. Singkatnya, minggu ini adalah hari terakhir untuk sahabatku bekerja di kantor. Dia telah membuat keputusan untuk berhenti bekerja dan memilih untuk menemani suami yang bekerja di luar Jawa. Dirinyapun sedang hamil 5 bulan. Aku bisa mengerti keputusannya. Akan sangat egois untuk memintanya tinggal hanya untuk mendengar curhatan remeh-temehku dan menemaniku makan siang. Tapi sungguh semua itu sangat berharga bagiku.
Namanya Niken Paramita. Kami selalu bersekolah di tempat yang sama mulai SD. Hanya saja kami menjadi dekat sejak kuliah. Dia mengerti aku dan aku mengerti dirinya. Dia dewasa, itu yang paling kusuka darinya, meski pada faktanya dia lebih muda setengah tahun dariku. Kenyataannya akulah yang sering menumpahkan uneg-unegku padanya. Lainnya, dia orang yang netral. Jangan mengira dengan menjadi sahabatnya dengan otomatis dia akan membelamu dalam setiap konflik. Dia adalah orang yang memandang segala sesuatu dari luar kotak. Bisakah membayangkan aku yang Drama Queen ini menjadi temannya. Bisa dipastikan aku keseringan menggerutu karena merasa tidak dibela. Entah sebagai sesama wanita atau sebagai sahabat, tapi itulah dia…
The bottom line is, selama kami bersahabat dia sudah mematahkan hatiku sebanyak tiga kali. Dan ini patah hati sungguhan. Aku tidak memilih diksi itu tanpa alasan. Biar kubeberkan alasan patah hatiku satu per satu.
Alasan I: Dia menikah
Terus terang dahiku langsung berkerut waktu dia memutuskan menikah. I mean, siapa yang akan menemaniku ke mall, berputar-putar keliling kota untuk mencari sesuatu yang menarik. Itu kan artinya aku harus minta ijin suaminya setiap kali aku akan mengajaknya pergi. Oh, kemana larinya kebebasan kami. Aku tidak membenci suaminya karena dia pria yang baik. Aku hanya patah hati karena deep down inside aku merasa dia menduakan aku. Okay, aku merasa tersaingi. Sahabatku terenggut dariku. Namun sepertinya ini belum menjadi yang paling luar biasa.
Alasan II: Dia hamil
Tuhanku! Pria itu menghamilinya!!! Yeah, aku memang lebay. Apa yang salah dari seorang suami yang menghamili istrinya sendiri. Tapi lihat aku!! Lihat apa yang dia perbuat dengan merampas sahabatku dariku, sekarang dia memberinya kado yang sudah jelas akan menjauhkan aku darinya. No more watching cinema together, tidak ada lagi acara jalan-jalan. Ini jalan buntu.
Alasan III: Dia keluar dari kantor
Dia benar-benar ingin membunuhku!!! Dia adalah sebagian alasan yang membuatku tetap bekerja di tempat kerjaku sekarang. Aku punya teman yang memiliki nasib sama. Kami sering mengeluh bersama dan mentertawakan banyak hal bersama.
Alasan III adalah alasan yang paling dalam menyakitiku. Seminggu ini aku selalu menangis semalaman dan tidak bisa tidur sebelum pukul 02.00 pagi. Aku tidak bisa berhenti menyesali pengunduran dirinya. Aku tahu aku egois. Egois adalah nama tengahku, kawan. Setiap aku mendengar lagi Malaikat Juga Tahu punya Dewi Lestari aku bisa menangis dengan hebat. Aku bisa memenuhi kolam renang balita dengan air mataku. Aku benar-benar merasa tidak berdaya sekaligus sedih karena begitu egois padanya. Dia adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku bahkan sudah merindukan tawa kami. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengatasi kantor tanpa dia. Ini menyedihkan dan diluar kapasitasku sebagai gadis bodoh yang arogan dan egois. Sampai sekarang aku masih merasakan mataku berkaca-kaca setiap mengingat ini semua. Sayangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Patah hati ini mengalahkan patah hati pada seorang mantan pacar. Aku tidak pernah putus cinta dan merasa patah hati yang seperti ini. Kalau boleh kunyatakan, ini adalah patah hati terberat dalam hidupku. Bagaimana mungkin seorang Niken membuatku menangis malam-malam selama satu minggu penuh hingga aku merasa perlu untuk membicarakannya dengan Ra. Untungnya dia bisa memberiku rasa nyaman untuk kembali ke realita lagi. Meski belum sepenuhnya. Hatiku masih sakit dan memerlukan waktu yang lama untuk sembuh.
Hari Sabtu kemarin adalah hari terakhirnya ngantor. Kukuatkan hatiku untuk tidak menangis didepannya. Dia hamil dan dia tidak boleh menangis.
Aku hanya berharap nantinya segalanya akan sedikit lebih mudah untukku. Aku terlalu banyak kehilangan akhir-akhir ini dan semuanya menyakitkanku dengan keras. Semoga tahun depan akan menjadi tahun yang penuh berkah bagiku dan keluarga serta sahabat dan teman-teman dekatku.

Hugs,
Jingga

20081221

nuer Drei Stunden, Baby...


Malam minggu ini kuhabiskan untuk bercengkerama bersama sahabatku, Niken. Menghabiskan waktu dengannya sebelum sang suami datang dan membawanya pergi (booohooo!!!!)

Ah sudahlah, hentikan semua kecengengan ini! Mau tidak mau, nantinya pasti aku harus menghadapi semuanya sendiri. Ya, sendiri...

Setelah meneguk segelas lemon tea (akhir-akhir ini gila lemon tea), aku pulang. Sekitar jam 11an sampai di rumah.

Diam saja di kamar, tidak melakukan apa-apa. Jam 12 aku putuskan menelpon Rahwana! Dia mengangkat telponnya!!! EUREKA!!!

Kami mengobrol 3 jam!!!!


Rupanya banyak hal yang sedang dipikirkannya. Aku berharap bisa menceriakannya, karena dia sudah memberikan kerlip cahaya di langit gelapku minggu itu...

Hugs,
Jingga

20081219

Ticking...



It's been four days...
Maybe he's just running out of credit pulse...
Or...
He just has a problem to find a nearby reload shop

Okay..
Ich warte

Tick.. Tick.. Tick..

The clock is ticking
The rain is falling
again...



15:20
Dec 19th, 2008
im Buero (haha)

Kodok, Rumput dan sang Hujan



Titik-titik hujan berdenting di kaca, mendamaikan…
Aku bagai seekor katak yang berdendang kegirangan
Kala sang hujan tersungging menyapa jiwa
Aku bagai kecebong kecil yang bersorai riuh
Saat sentuhan dingin rintiknya membelai hati

Ini gaduh yang kudamba...
Tiap tetes adalah selaksa harmoni penyembuh luka
Tiap butirnya adalah semesta sejuk dunia

Aku hanyalah rumput...
Diam, hening, dan takluk
Kala kau datang, wahai Air Langitku
Kureguk sejuta cita hidup dan nirwana
Beningmu kabarkan cerita indah sang niji
Tempat para bidadari bercanda lirih

Aku hanya seekor katak yang terpesona lembut melodimu
Aku cuma rumput yang menantikan lengkung pelangimu

Wahai Air Langit,
Terimalah sekeping tresna dariku

18 Desember 2008
21:48
In my room... (ngantuk)

Mood: lempeng
Soundtrack: Semua yang Terlambat – Marcel
(urip kok di-soundtrack-i… *hihihi)

20081218

Bos Aneh...



Pagi ini tiba2 bos kantor atas mendatangiku...

Bos Atas:
Wah, uda siap dopingnya nih!! *sambil nglirik obat infeksi lambungku yg berhamburan di meja
Ayas:
Bukan doping, Pak... Saya lagi sakit
Bos Atas:
Sakit apa?
Ayas:
Biasa, Pak. Infeksi lambung...
Bos Atas:
Ooohh.. Hari ini kok kliatan lain ya? *apanya yg lain. Nanti datang seminar? *tumben ceria amat.
Ayas:
Sepertinya ndak, Pak...

Catatan:
Yang dia sebut lain mungkin karna eye-shadow biru dari The Body Shop Spring collection dan shimmer powder di pipi... Berarti selama ini aku jelek dong *wondering
Catatan lain:
Bos ini kaga ganteng. Catet!!!

Hugs, Jingga

PS:
Aku bersumpah setelah ini aku akan berusaha hidup normal!!! Semangat!!!

20081217

Jawaban yang Kutunggu


Aku tahu semuanya! Itu sudah terjadi!! Aku sudah tahu apa yang menjadi rahasianya selama ini. Sayangnya aku tidak siap dengan kebenaran itu. Terlalu menyesakkan. Aku jadi seperti menempelkan kepingan-kepingan jigsaw acak. Sayangnya setelah jigsaw itu sudah tertata dengan baik aku tidak bisa merusaknya kembali menjadi kepingan-kepingan terpisah sesuai keinginanku. Aku menyesal dengan rasa keingintahuanku yang meraja ini. Kalau ternyata seperti ini, lebih baik aku tidak tahu.

Kenapa kepedihannya terasa begitu nyata? Bisakah terbayangkan bila seseorang harus mendatangi rumah kekasihnya yang sedang melangsungkan pernikahan. Pedihnya tidak terbayangkan. Pada saat itu aku bertemu dengannya disana aku mencium bau alkohol, tapi aku diam saja. Sekarang aku memahaminya. Paham sekali! Bahkan bila ia datang dengan pedang terhunus atau dengan keris yang keluar dari sarungnya, sungguh aku mengerti.

Puisi-puisi itu! Sudah pasti itu miliknya. Aku hafal diksinya. Aku hafal gaya menulisnya. Aku hafal semuanya...

Hatiku teriris. Aku tidak bisa membayangkan harus menjalani apa yang dijalaninya. Terlampau berat buatku yang rapuh ini.

Semuanya begitu jelas sekarang. Kemarin malam terasa begitu panjang. Mataku sulit terpejam. Kucoba menelponnya. Tengah malam lewat. Aku memang gila. Aku mencoba menenangkan diriku. Perasaan ini... Aku tidak tahu apa namanya.

Aku sendiri tidak mengerti. Ini seperti deja vu. Mengapa aku merasakan sakit yang sama dengan sakitnya? Mengapa aku bisa merasakannya? Kami bahkan tidak sedekat itu. Air mataku tumpah untuk kesakitannya. Aku menangisi luka yang bukan milikku. Sepertinya aku yang sakit. Sepertinya aku yang terluka. Gelombang depresi itu, kesedihan itu, keputusasaan itu... Semua terasa sungguh nyata. Sungguh sulit dibayangkan sebelumnya! Tapi ternyata turut merasakannya adalah pilihan yang salah... Aku tidak kuat menjalaninya. Hanya semalam itu aku mencoba berjalan di jalurnya... Aku tidak kuat dan terlempar dari sana...

Apa ini? Cinta tidak seperti ini? Setidaknya tidak sepengetahuanku. Aku pernah jatuh cinta, dan rasanya tidak seperti ini.

Aku seperti arwah yang masuk ke raga orang lain. Aku turut merasakan semua yang dialaminya. Menangis untuknya. Aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku menangis. Bukan aku yang mengalami sakit itu... Bukan...

Aku jadi semakin tidak mengerti asa apa yang bersemayam dalam diriku...

Apa artinya ini??

Hugs,
Jingga

Peri Kecil dan Ksatria --- Part 2


FriendsterTool.com


Tirai telah terbuka
Tidak ada lagi tanya tersisa
Hanya segenggam sisa asa

Aku paham bagaimana panah itu menembus kulit
Aku mengerti bagaimana tombak itu menancap
Aku tahu bagaimana peluru itu mengoyak

Sadarkah kau wahai Ksatria?
Peri kecil ini mengecapnya juga
Tembusan panah itu
Tancapan tombak itu
Koyakan peluru itu

Kenapa bukanlah pertanyaan?
Karena takkan pernah ada jawaban

Tahukah kau wahai Ksatria?
Peri kecil ini ingin meminta
Ijinkan ia turut menemani perihmu
Turutkan ia dalam renunganmu
Ikutkan ia dalam pengembaraanmu

Karena...


Sayapnya berkerlip hanya untukmu...


17 Desember 2008
12:26
Kantorku... (bikin ini sambil attach file kerjaan di e-mail... :P)

Silau




Titik terang telah terlihat
Titik yang jadi sebentuk cahaya
Menyilaukan!
Kutangkupkan tanganku,
tak sanggup kutatap nanarnya cahya ini...

Hanya secercah yang ingin kupeluk,
tapi silau ini begitu memerihkan.
Pelukanku pun memudar

Aku tidak siap
Bukan ini saatnya!

sang Waktu bergulirlah..
punguti tiap tetes airmata yang tercurah
Kecupi tiap luka yang berdarah merah
Renungi tiap tangis yang melukis sang wajah..

Demi Tuhan, bergulirlah sekarang!
Sebelum indahnya terabukan api samsara


17/12/2008
23:36
Kamarku... :(

20081216

Drupadi itu...




Akhirnya kutemukan Drupadi itu...
Semua pertanyaanku terjawab.

Tapi
Mengapa seperti ada darah yang mengucur dari ujung jariku?
Mengapa ada airmata menitik di ufuk sang candra?
Mengapa kata-kata begitu sulit untuk terangkaikan?

Bila saja esok pagi
Kau terbit dan memberikan pelukan hangat untukku..

Tapi
aku bukan Drupadi...

Aku hanya sebentuk hati
Yang ada untuk matahari
Kapanpun matahari enggan bersinar...
Awan akan siaga meredupkan terangnya..

Maafkan aku yang mendobrak pintumu
Maafkan aku yang memaksa masuk
Maafkan aku yang membangunkanmu

Aku berlalu
Sesuai yang kau inginkan...
Aku tinggalkan jejakku untukmu
Bila kau ingin adaku lagi



~ dari Shinta yang merindukan Alengka


Kantor...
Tuesday, 16th of December 2008
20:24

20081215

Aku mengakuinya…



Akhir-akhir ini makin sering hujan. Dingin, sendiri, nyaman dan menenangkan.

Hari ini aku sampai pada kesadaran bahwa untuk kali ini aku punya keinginan. Tidak muluk. Aku hanya ingin diperbolehkan untuk berbagi dengannya. Hanya berbagi. Aku tidak tahu apa yang menuntunku kearahnya. Aku tidak tahu apa motivasiku. Aku tidak tahu apa yang signifikan pada dirinya. Yang kutahu, aku mengaguminya. Aku mengagumi caranya mengagumiku yang hanya aku ini.

Aku mengaku padanya bahwa lagu Dewi Lestari ”Malaikat Juga Tahu” telah membuatku tiba-tiba sesak napas dan di kali lain membuatku menangis. Aku benar-benar tidak tahu sebabnya. Mungkin karena lagu itu mengungkap ke-sejati-an cinta. Entahlah...

Dia berkata, aku orang pertama yang berbuat begitu banyak untuknya. Aku bahkan sudah lupa apa saja yang kulakukan. Paling-paling hal remeh membelikannya vitamin C dan memberikan hasil foto-fotonya waktu memetik gitar di atas panggung. Itu saja. Tidak lebih. Ternyata dia begitu menghargai pemberianku. Ternyata ada orang seperti dia...

Aku benar-benar kesulitan jika harus mengejawantahkan perasaanku karena ia kerap kali mengirimkan sinyal palsu yang menipu. Aku tidak mau tertipu lagi. Kali ini kujalani semua dengan akal sehat dan kubiarkan semuanya mengalir sambil berusaha untuk tidak tenggelam

Sahabatku berkata aku mencintainya. (Terlalu dini untuk mengatakan cinta... Mendengar kata cinta saja aku berjengit)
Temanku yang lain berkata aku penasaran dengannya. (Sekarang sudah tidak lagi, dia begitu terbuka padaku)
Perasaanku berkata aku menyukainya. (Kalau tidak suka, aku pasti tidak akan pernah datang ke pertunjukannya)
Sudah!! Sudah!! Aku tidak mau mendengar dugaan-dugaan lain. Aku bahkan tidak mau memberikan definisi tentang apa kami ini.

Yang jelas,
1. Dia tidak suka minum obat
2. Aku suka mendengarkan musiknya (sukaaaaaaaaaa sekali!!)
3. Dia makan satu kali sehari
4. Aku jatuh cinta dengan dreadlock-nya
5. Dia mencintai Drupadi
6. Aku mengagumi Rahwana
7. Dia mengagumiku
8. Aku adalah groupie sejatinya
9. Dia seorang coffee-junkie
10. Aku suka hujan
11. Dia laki-laki yang baik
12. Aku gadis yang baik (menurut dia)
13. Dia kurus
14. Aku gendut
15. Dia pemalu
16. Aku pemarah
17. Dia idolaku
18. Aku yakin daftar ini akan makin panjang...

Ada sebuah puisi yang kutulis untuknya waktu aku terbangun dari tidur...

”Pejamkan matamu, wahai ksatria...
Rintik telah sirna
Kapal telah berlabuh
Pedang telah tersarung

Peri kecil menunggu
Menjagamu yang penat dan berpeluh
Menghampar selimut damai
Dibawah kerlip gemintang...

Rebahkan kepalamu, wahai ksatria
Hari ini perang tlah usai”

13/12/2008
02:58 am

Aku senang bisa berbagi bersamanya. Tuhan, terima kasih...

Hugs,
Jingga

Minggu ini aku menemukan julukan bagus untukku sendiri.
It’s SENTIMENTAL FOOL. I am a SENTIMENTAL FOOL, aren’t I? *big grin

20081212

Insomnia kambuhan??


Missed Call
Rahwana



22:20
11 Dec


Shinta:
Kok blm tdur? Tak ceples lho.. *hiyaaa
Apa kabar? Latian apa? Knp menelponku?
Ada yg bisa kubantu?
*balesnya ntar aj hbs latian

sh[n


Rahwana:

Tak sanggup kuhalau seruan rindu...
Hwaka..ka..ka..k!
Ltian musik bwt festival tari.

Ta latian lg y..

Mimpi indah, Shin...


Shinta:

Vermiss dich auch, Raa..
Gute Nacht!

sh[n

20081211

Dari dia...


di sebuah opera
bangku~bangku penuh
berisi

penonton
maestro
guru
murid
idola
dan mereka yang bersengketa telah
menunggu kabar damai
lakon merilis mahakarya

Ia akan pulang setelah
yakin disertakan
sutradara dalam babak
berikut
kisah berabad lamanya
Di kota
Diadat
Di desa dikramat
lelaku sakral
lelaku mantra
legenda jagad
bahkan murid jadi buah
bibir lantaran ditepuki
maestro.


Demikian selanjutnya…

Sepanjang ritual
sutradara membisiki
Tahukah apa yang dikenangnya
pembaca kitab adalah tokoh pintar seperti
kamu

-- Rahwana --

2008/12/11 13:25

Reggae yang tertunda...

Kamis, 4 Desember 2008

Critanya hari ini aku sudah sampai pada taraf kejengkelan memuncak atas segala yang terjadi pada hidupku. Jam 14.00 kuputuskan cabut dari kantor. Aku ke UM.
Aku mau nonton Pesawat 244. tidak boleh tidak karena semua udah direncanakan. Inilah fotonya. It ended up with me taking pictures of them, and their videos too (before my cam ran out of space)…. Bagooooooossss…
Foto2 ini cuma yang bagus-bagus aja yah… maklum, entah kamera yang jelek ato operatornya yang kaga gablek…
Silakeuuunnn…
Hugs,
Jingga

The cutie vocalist, LUcKI (yg gak perna sandalan kalo manggung)


Pacarnya Lucky, mantan LFC-ku, YOYOK


The GROUPIES (??)


Pesawat 244, they're addictive!!!


LucKi, the vocalist in Pink


Zaki, percussion


Pesawat 244


Gimbal, tapi isinan!!! Wahahahahaha.... *ROFL


This guy is just amazing!! His jamming is super duper cool...






Love Giveaway, Love for Free... GRATIS!!!




Sedang merenung lagi. Tentang cinta lagi... Akhir-akhir ini tema itu begitu akrab di kepala. Karib sekali dan tak mau lepas. Ada yang sedikit mengganjal tentang cinta. Mengapa cinta selalu identik dengan memiliki? Contohnya, kalau kita jatuh cinta pada sesuatu. Pas lagi jalan-jalan di mall, mata tertumbuk pada satu sosok keren yang ehm... Tiba-tiba saja sepasang sepatu yang lama diidamkan ada di depan mata. Ternyata, seperti yang sudah diduga, aksi selanjutnya adalah acara membobol ATM. Saya kalah lagi. Harus saya akui, itu tadi pengalaman saya dengan sepatu converse coklat saya.

Itu saya yang sedang jatuh hati pada seonggok sepatu, bagaimana dengan hati manusia yang jatuh cinta dengan manusia lain. Pasti rasa yang berkobar lebih dahsyat lagi. Lebih menggebu. Lebih obsesif.

Kenapa posesivitas itu harus ada? Kenapa segala sesuatu yang indah harus dimiliki? Kenapa kita tidak bisa bahagia dengan melihatnya dari jauh? Kenapa kita tidak bisa bahagia dengan kesempatan pertemuan yang terjadi? Jarang lho ada toko yang menjual Converse lama warna coklat incaran saya itu. Ketemu saja seharusnya sudah cukup membahagiakan, tanpa harus merogoh kocek untuk memiliki. Atau kalau ada kamera, kenapa tidak memotretnya saja? Sama saja kan? Sama-sama menjadi hak milik yang bisa dipandangi setiap waktu.

Sebagai informasi tambahan, sekarang sepatu coklat saya itu teronggok di tempat sepatu karena bagi saya sandal jepit itu jauh lebih nyaman. Apalagi kala hujan begini. Bisa-bisa converse saya kotor kena cipratan lumpur di luar sana.

Satu lagi sifat manusia. Over protektif. Padahal belum tentu juga jalan yang saya lewati akan banyak lumpurnya. Siapa tahu nanti di tengah jalan saya bertemu teman bermobil yang bersedia mengantar kemanapun saya mau.

Manusia terkadang terlalu parno. Mengira-ngira hal yang belum tentu terjadi. Berlagak sok peramal masa depan handal.

Kembali ke masalah cinta. Cinta terhadap orang lain, terhadap lawan jenis mungkin. Cinta seperti ini mendorong kita untuk berada lebih dekat dengan orang yang kita cintai. Kita ingin selalu berada di dekatnya, seakan-akan dia adalah sumber kebahagiaan kita. Cinta memang membahagiakan, tapi saya yakin bukan itu saja sebab kebahagiaan di muka bumi ini. Saya bukan skeptis, saya hanya mencoba untuk menggali hal lain, alternatif lain.

Setelah kedekatan terjalin, rasa cemburu selalu mengudara setiap ada orang lain yang berusaha menarik perhatian orang yang kita jatuhi cinta. Selamat datang ke fase penyiksaan pertama. Rasa tidak aman yang selalu mengikuti kemana kaki melangkah. Dari sini manusia mulai merasa “memiliki” manusia lain. Bertahta atas manusia yang lain. Berkuasa atas manusia yang lain. Menjadi diktator atas manusia yang lain, setidaknya nanti akan mengarah ke arah itu.

Disinilah rasa memiliki muncul.

Apakah cinta harus selalu memiliki? Pertanyaan besar abad ini. Saya dengan mudah bisa berkilah bahwa cinta tidak harus selalu memiliki. Toh, saya juga masih bisa menangis menggerung-gerung bila ”incaran” saya ternyata memilih wanita lain. Ya ya... saya berlebihan, namun saya yakin dalam hati Anda mengangguk setuju. Akui saja!

Saya tidak bermaksud untuk menggugat CINTA dengan menulis blog ini. Saya hanya ingin menggaris bawahi, mengingatkan kembali pada teman-teman semua bahwa cinta yang posesif tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik.

Saya pernah membaca buku entah penulisnya siapa, yang jelas ia berkata bahwa cinta itu seperti pasir di genggaman tangan kita. Semakin erat tangan kita menggenggamnya, maka semakin banyak pasir yang lolos keluar dari kepalan kita. Cara satu-satunya bagi pasir itu agar tetap ditempatnya adalah dengan membuka tangan kita. Saya tahu ini basi, tapi it works for me.

Bila hati Anda sedang berbunga-bunga karena seseorang, pertahankan perasaan bahagia itu selama mungkin dengan tidak terlalu memikirkan siapa saja saingan Anda, mengapa ia jarang meng-sms Anda, dan kapan ia terakhir kali menghubungi Anda. Nikmati kebersamaan dengannya. Berikan cinta Anda padanya. Berikan perhatian Anda dan lihat reaksinya. Tangkap kembali kebahagiaannya setiap Anda membelikannya makan malam. Terima rasa terima kasihnya untuk sebotol vitamin C yang Anda selipkan di lokernya. Tatap senyum bahagianya saat ia melihat Anda bertepuk tangan meriah setiap band-nya tampil. *Lho.. lho... ini ngomongin siapa? Yaaah ini buat contoh buat orang-orang yang punya pacar anak band. Band heavy metal, hip metal, rock, blues, jazz, reggae sampe orkes melayu.

Percayalah, cinta itu persoalan memberi. Bukan persoalan siapa akan berkuasa atas siapa. Bukan persoalan siapa menaklukkan siapa. Cinta tidak serumit itu...

Seperti lirik lagu reggae ciptaan seorang teman ”... yang sejati pasti kembali...”.

Jadi buat apa repot-repot membuat pagar di sekitarnya?? Untuk apa memberikan batasan-batasan yang pasti jauh dari kata nyaman...

Mungkin bagi Anda ini omong kosong. Setidaknya saya sudah menuangkan apa yang ada di pikiran saya. Selanjutnya, monggo kerso...

Stay in love!!!

Hugs,
Jingga

Penaklukan??




Postingan tanggal 9 Desember 2008 (maap internet njeblug)

Mungkin ada beberapa teman yang menganggap aku cocky. In a way, I think the same. Aku dengan arogansiku yang kubanggakan. Hahay!!

Jatuh cinta, aku benci hal ini. Bagi orang lain jatuh cinta mungkin terasa indah dan membahagiakan. Bagiku sebaliknya. Bagiku cinta itu menyiksa. Membuat sakit luar dalam. Pernyataanku tadi bukan main-main. Aku serius.

Bisa bayangin nggak? Seseorang yang sangat kuat seperti Samson bisa bertekuk lutut sama Delilah? Sampai2 dia memberitahukan rahasia kekuatannya yang akan hilang bila rambutnya dipotong. Cinta memang gak logis. Gak bener nih!!

Bagiku, cinta artinya juga penaklukan. Seseorang harus bertekuk lutut, mengaku kalah akan perasaannya sendiri. Dengan kata lain, ia kehilangan kemampuan untuk menguasai diri sendiri. Kawan, hal itu sungguh berat untuk orang sombong seperti aku.

Trus, apa hubungannya kepasrahan orang terpanah cinta dengan aku (bahasakuuuuu..)? Ada donk!! Kalo gak ada ngapain juga aku nulis ginian??? Ini semua berhubungan dengan hipotesis bahwa MANUSIA SELALU MENGINGINKAN APA YANG TIDAK DIMILIKINYA. Same here!! Aku selalu jatuh cinta sama orang yang salah. Selama hidup aku pernah suka beberapa orang tapi aku harus mengakui bahwa aku cuma bisa jatuh cinta sama beberapa orang. Sialnya, orang-orang tidak beruntung itu adalah orang-orang yang gak mungkin ku jangkau. Bukan low self-esteem ya, guys. Ini semua lebih ke masalah perbedaan terlalu besar antara aku dan pria2 itu. Aneh2 aja mereka itu. Ada yang beda ras (sampe sekarang aku bingung kenapa ketidakhadirannya begitu menghujam dalam), sampe masalah beda pandangan sama orang tua. Pendeknya, yang terakhir itu karna Mam dan Pap gak setuju. I’m powerless about this. Aku bukan macem orang nekat yang makin dilarang makin kawin lari... Hahaha... Pengennya!!

Lucu ya? Kenapa aku gak bisa jatuh cinta sama orang yang biasa2 aja. Bukan dari kalangan makhluk aneh yang akan mengundang isu sawat dan bandem dari orang-orang tercinta. Aku capek. Aku capek merasa kalah. Bayangkan, aku merasa kalah dua kali, kalah akan perbedaanku dengan dia dan kalah akan perasaanku sendiri. Dan aku orang yang lumayan anti kalah.

Kadang aku gak terima. Ada yang bilang cinta itu datangnya dari Allah. Trus, kenapa Allah memberiku ”kado” cinta orang yang jelas-jelas gak mungkin bersama denganku. Mungkin aku harus merenung makin keras, memikirkan semua ini.

Kenapa sih aku tiba2 merasa seperti ini? Aku cuma bisa bilang.hari-hari nyantai tanpa pikiran itu sudah berakhir. Ada seseorang yang lagi hobi banget jalan2 di pikiran aku dan dia gak punya kata capek di kamusnya. Waktu istirahatku cuman kalo aku lagi bobok. Dengan begitu dia bisa ikutan bobok instead of jalan-jalan di kepala aku.

Ya Allah, terima kasih.
Ini sulit.
Tapi akan ku coba.
Bila seandainya aku jatuh, tangkap aku ya Allah...
Kau adalah tempat segalanya berlabuh

Hugs, Jingga

20081209

Semua


Aku merindukannya…

Dia indah… Dia malaikat

Sempurna. Tanpa cacat sedikitpun…

Aku mengaguminya

Mengagumi mimpinya

Mengagumi rasa hormatnya

Mengagumi kekuatannya

Mengagumi kelemahannya

Mengagumi caranya berbicara padaku

Semua...

Sofa Takdir

Diluar hujan...
Di dalam hujan juga...


Kunang-kunang berpijar
Laksana segerombol bintang
Titik hujan lesu membasahi
Namun kunang tak mau pergi...

Di tepi danau ungu kita duduk bersama
Berkecamuk tentang sofa takdir kita
Kapan kita akan membelinya?
Aku ingin duduk disana
Kau ingin duduk disana

Telepon berdering
Stok sofa takdir habis

Lunglai...
Aku kembali ke bangkuku
Kau kembali ke kursimu

Menunggu sofa takdir kita..

Kantor
Dec 9th 2008
08:58